pbl muskuloskeletal modul dasar

Diposkan oleh SCIENTIFIC... | 19.13 | 0 komentar »

BAB I
PENDAHULUAN

SKENARIO
Pada saat sholat, kita harus melakukan gerakan Takbir, Sujud, Rukuk, dan Duduk.
Pada saat bekerja dengan menggunakan computer kita harus menggerakkan jari-jari tangan kita
Pada saat jalan-jalan di Mall, kaki kita dipergunakan untuk berjalan.

Kata Kunci
Gerakan

Pertanyaan
1.    Apa yang dimaksud dengan gerakan?
2.    Apa saja macam-macam dari gerakan?
3.    Apa saja struktur yang mempengaruhi terjadinya gerakan?
4.    Bagaimana bentuk fisiologi dari gerakan?
5.    Bagaimana embriologi dari  tulang?
6.    Apakah pengaruh gizi dalam terjadinya gerakan?
7.    Bagaiman proses biokimia saat terjadinya gerakan?
8.   Apa struktur yang berperan dalam gerakan takbir, Sujud, Rukuk, duduk, menggerakkan jari-jari tangan, dan berjalan.
9.  Posisi apa saja yang terdapat dalam gerakan takbir, Sujud, Rukuk, duduk, menggerakkan jari-jari tangan, dan berjalan.
10.  Apa manfaat terhadap fisiologi gerakan takbir, Sujud, Rukuk, duduk, menggerakkan jari-jari tangan, dan berjalan.

Tujuan Pembelajaran
1.    Mengetahui macam-macam gerakan
2.    Mengidentifikasi struktur dari alat gerak
3.    Mengetahui pengaruh gizi dan reaksi kima dalam terjadinya gerakan
4.    Mengetahui mekanisme kerja system alat gerak tubuh manusia

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.    Pengertian gerak
Gerak adalah suatu tanggapan terhadap rangsangan baik dari dalam maupun dari luar. Gerak dapat berupa gerakan sebagian anggota tubuh maupun seluruh tubuh, misalnya gerak pindah tempat. Gerak pada manusia disebabkan oleh kontraksi otot yang menggerakan tulang. Jadi, gerak merupakan kerja sama antara tulang dan otot. Tulang disebut alat gerak pasif  karena hanya mengikuti kendali otot, sedangkan otot disebut alat gerak aktif karena mampu berkontraksi, sehingga mampu menggerakan tulang.

2.2.    Macam-macam gerakan
    Ekstensor (meluruskan) dan fleksor (membengkokkan), misalnya otot trisep dan otot bisep.
    Abduktor (menjauhi badan) dan adduktor (mendekati badan), misalnya gerak tangan sejajar bahu dan sikap sempurna.
    Depresor (kebawah) dan elevator (ke atas), misalnya gerak kepala menunduk dan menengadah.
    Supinator (menengadah) dan pronator (menelungkup), misalnya gerak telapak tangan menengadah dan gerak telapak tangan menelungkup.

2.3.    Struktur alat gerak
2.3.1    Otot
Otot merupakan organ tubuh yang mempunyai kemampuan mengubah energy kimia menjadi energy mekanik/gerak sehingga dapat berkontraksi untuk menggerakkan rangka. Otot terdiri atas sel – sel terspesialisasi untuk kontraksi, mengandung protein kontraktil.
Berdasarkan cara kerjanya dibedakan  menjadi :
1)    Otot sinergis
yaitu hubungan antar otot yang cara kerjanya saling bekerja sama/menimbulkan gerakan yang searah.
Ex :
•    Seluruh otot pronator yang mengatur pergerakan telapak  tangan untuk menelungkup.
•    Seluruh otot supinator yang mengatur pergerakan telapak tangan m enengadah.
2)    Otot antagonis
yaitu hubungan antar otot yang cara kerjanya berlawanan/bertolak belakang/tidak searah. Macamynya :
•    Otot ekstensor (meluruskan) dengan fleksor (membengkokkan).
•    Otot abductor (menjauhi sumbu badan) dengan adductor (mendekatisumbu badan).
•    Otot supinator (menengadah) dengan pronator (menelungkup).
•    Otot depressor (gerakan ke bawah) dengan elevator (gerakan ke atas).
Berdasarkan perlekatannya dibedakan  menjadi :
1.    Origo
Yaitu bagian ujung otot yang melekat pada tulang dengan pergerakan yang tetap/stabil pada saat kontraksi.
2.    Insersio
Yaitu bagian ujung otot yang melekat pada tulang dengan pergerakan yang berubah posisi pada saat kontraksi.
Mekanisme Gerak Otot
­serabut halus sel otot /miofibril mengandung miofilamen, ada2 :
a.    Filamen halus : 2 aktin (tropomiosin& troponin kompleks) dan 1 regulator.
b.   Filamen kasar : myosin, filamen halus dan kasar menyebabkan pola gelap terang. Setiap unit gelap-terang disebut SARKOMER. GARIS Z :batas antar sarkomer, filamen halus dipinggir, dan kasar di tengah. PITA A :di mana filament kasar dan filamen halus bertindihan. ZONA H :bagian dengan filament kasar di tengah. PITA I :ujung dekat sarkomer, filament halus saja. PROSES :otot kontraksi, sarkomer memendek, zona H hilang, dan pita I memendek, pita A tetap. Saat itu, filamen kasar dan filament halus menggeser dan menjadi satu, membentuk formasi aktomiosin

Jenis-jenis otot
­Otot Rangka
Otot rangka merupakan otot yang melekat pada rangka. Otot rangka berupa miofibril ,dan multinuklei. Otot Rangka sama dengan otot lurik atau otot serat lintang. Berkas – berkas membentuk fasikuli yang berselaput fasiapropia. Kumpulan fasikuli diselaputi fasia superfisialis. Ujung ventrikel keras,disebut tendon. Ujung tendon ada 2 yaitu origin yakni tidak dapat bergerak dan insersi yakni dapat bergerak.
Otot rangka bekerja secara volunter (secara sadar atas perintah dari otak), bergaris melintang, bercorak dan berinti banyak di bagian perifer. Secara anatomis terdiri dari jaringan konektif dan sel kontraktil. Memiliki bentuk sel yang panjang seperti serabut/benang/filament. Memiliki banyak inti sel yang terletak di tepi. Memiliki permukaan yang tampak bergaris-garis gelap dan terang yanag melintang pada struktur selnya. Hal ini dikarenakan adanya myofibril yang tidak seragam/tidak sama tebalnya pad permukaan sel otot. Pergerakan sel otot ini sesuai dengan kehendak/diperintah oleh otak. Sehingga sifat pergerakannya cepat dan tidak teratur serta mudah lelah. Sel otot ini hanya dijumpai di rangka, karena melekat di tulang untuk pergerakan.
Setiap otot dilapisi jaringan konektif yang disebut epimisium.Otot rangka disusun oleh fasikula yang merupakan berkas otot yang terdiri dari beberapa sel otot. Setiap fasikula dilapisi jaringan konektif yang disebut perimisium dan setiap sel otot dipisahkan oleh endomisium.
Fungsi Otot Rangka
a.    Menghasilkan gerakan rangka tubuh.
b.    Mempertahankan sikap dan posisi tubuh.
c.    Menyokong jaringan lunak.
d.    Menunjukkan pintu  masuk dan keluar saluran dalam system tubuh.
e.    Mempertahankan suhu tubuh dengan pembentukan kalor saat kontraksi

Secara mikroskopis sel otot rangka terdiri dari :
a.    Sarkolema (membrane sel serabut otot)
b.    Miofibril (mengandung filament aktin dan miosin)
c.    Sarkoplasma (cairan intrasel berisi kalsium, magnesium, phosfat, protein &enzim.
d.    Retikulum Sarkoplasma (tempat penyimpanan kalsium)
e.    Tubulus T (system tubulus pada serabut otot)

­Otot Polos/Licin
Memiliki bentuk sel otot seperti silibdris/gelendong dengan kedua ujung meruncing. Memiliki satu buah inti sel yang terletak di tengah sel otot. Mempunyai permukaan sel otot yang polos dan halus/licin.
Pergerakan sel otot ini diluar kehendak/tanpa disadari dengan sifat pergerakan lambat dan teratur. Sehingga dengan demikian tidak memungkinkan cepat lelah pada sel otot. Sel otot ini banyak dijumpai di seluruh organ dalam tubuh keculai jantung dan rangka. Terdapat disaluran pernapasan, pencernaan, reproduksi, transportasi, dan endokrin.
­    Otot Jantung/myocardium
Otot jantung hanya ada di jantung. Memiliki bentuksel yang memanjang seperti serabut/filament yang bercabang. Percabangan sel otot jantung disebut dengan Sinsitium. Memilki banyak inti sel yang terletak di tepi agak ke tengah. Pergerakan sel otot ini tanpa disadari/di luar kehendak. Sehingga sifat pergerakannya adalah lamat, teratur dan tidak mudah lelah. Sel otot ini hanya dijumpai pada organ jantung. Berkontraksi 72 kali setiap menit.
Terjadinya Gerak Biasa dan Gerak Refleks
Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, reseptor  ke saraf sensori dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak,  tanggapan saraf motor efektor.
Pada gerak refleks, impuls reseptor saraf sensori pusat saraf set saraf penghubung (asosiasi) ke saraf motor  efektor, yaitu otot atau kelenjar.
Mekanisme Umum Kontraksi dan Relaksasi Otot
Timbul dan berakhirnya kontraksi otot terjadi dalam urutan sebagai berikut :
1.    Potensial aksi berjalan sepanjang sebuah saraf motorik sampai ujung serat saraf.
2.    Setiap ujung saraf menyekresi substansi neurotransmitter yaitu asetilkolin dalam jumlah sedikit.
3.    Asetilkolin bekerja untuk area setempat pada membrane serat otot guna membuka saluran asetilkolin melalui molekul-molekul protein dalam membrane serat otot.
4.    Terbukanya saluran asetilkolin memungkinkan sejumlah besar ion natrium mengalir kebagian dalam membrane serat otot pada titik terminal saraf. Peristiwa ini menimbulkan potensial aksi serat saraf.
5.    Potensial aksi berjalan sepanjang membrane saraf otot dengan cara yang sama seperti potensial aksi berjalan sepanjang membran saraf.
6.    Potensial aksi akan menimbulkan depolarisasi membran serat otot, berjalan dalam serat otot ketika potensial aksi menyebabkan reticulum sarkolema melepas sejumlah ion kalsium, yang disimpan dalam reticulum ke dalam myofibril.
7.    Ion kalsium menimbulkan kekuatan menarik antara filament aktin dan miosin yang menyebabkan bergerak bersama-sama menghasilkan kontraksi.
8.    Setelah kurang dari satu detik kalsium dipompakan kembali kedalam retikulum sarkoplasma tempat ion-ion disimpan sampai potensial aksi otot yang baru lagi.
Relaksasi :
Proses relaksasi merupakan kebalikan dari proses kontraksi. Kalsium akan dipompa kembali ke dalam sarkoplasma oleh pompa membran Ca++ sehingga,aktin dan kepala miosin tidak lagi berikatan hal ini akan menyebabkan relaksasi.

2.3.2    Tulang
Tulang atau jaringan oseosa, merupakan bentuk kaku jaringan ikat yang membentuk sebagian besar kerangka vertebrata yang lebih tinggi. Jaringan ini terdiri atas sel-sel dan matriks intersel. Matriks mengandung unsur organik yaitu terutama serat-serat kolagen dan unsur anorganik yang merupakan dua pertiga berat tulang itu. Garam-garam anorganik yang bertanggungjawab atas kaku dan kejurnya tulang adalah kalsium fosfat (kira-kira 85%), kalsium karbonat (10%), dan sejumlah kecil kalsium fluorida dan magnesium fluorida. Serat-serat kolagen sangat menambah kekuatan tulang.
Secara makroskopik dapat dibedakan dua macam tulang : tulang spongiosa (“cancellous”) dan tulang kompak (padat). Tulang spongiosa terdiri atas trabekula atau blok tulang langsing, tidak teratur, bercabang dan saling berhubungan membentuk anyaman. Celah-celah diantara anyaman itu ditempati oleh sumsum tulang. Tulang kompakta tampak padat kecuali bila dilihat di dalam mikroskop. Diantara kedua jenis tulang ini tidak ada pembatasan yang jelas, karena semata-mata tergantung jumlah relatif bahan padat , ukuran, dan jumlah celah-celah yang ada pada masing-masingnya. Unsur histologik pada keduanya sama. Kecuali pada beberapa tempat, tulang spongiosa dan kompakta terdapat dalam setiap tulang, tetapi jumlah dan penyebarannya sangat berbeda.
Pada tulang panjang, bagian batang (diafisis) terutama terdiri atas tulang kompakta, yang mengelilingi rongga sum-sum (atau sum-sum tulang). Setiap bagian ujungnya (epifisis) terdiri atas tulang spongiosa yang dibungkus selapis tipis tulang kompakta. Celah-celah tulang spongiosa ini berhubungan langsung dengan rongga sumsum tulang diafisis. Pada tulang pipih dua lempeng tulang kompakta mengapit lapisan tulang spongiosa. Sebagian tulang yang tidak teratur bentuknya terdiri atas tulang spongiosa yang dibungkus selapis tipis tulang kompakta.
Setiap tulang, kecuali permukaan sendinya, dibungkus lapisan jaringan ikat khusus, yaitu periosteum. Lapisan jaringan ikat serupa yang kurang berkembang, yaitu endosteum, membatasi rongga dan celah-celah sumsum. Ciri paling utama tulang secara mikroskopi adalah susunannya yang lamelar, yaitu substansi intersel yang mengalami perkapuran atau matriks tulang, yang tersusun dalam lapisan-lapisan , atau lamel-lamel, dengan berbagai pola. Di dalam substansi interstitial terdapat rongga-rongga kecil, atau lacuna, yang berisi sel-sel tulang (osteosit). Dari tiap lakuna memancar keluar saluran-saluran halus, disebut kanalikuli yang menembus lamel-lamel dan berhubungan dengan kanalikuli lacuna sekitarnya. Jadi semua lacuna saling berhubungan melalui system saluran halus.
Dalam mempelajari tulang secara histologik perlu diingat bahwa karena adanya unsur anorganik  Tulang dapat dibedakan berdasarkan jaringan penyusunnya dan sifat-sifat fisik yaitu :
1) Tulang rawan/tulang muda/cartilago
Cartilago berfungsi untuk melindungi bagian ujung epifise tulang. Terutama dalam proses osifikasi/penulangan. Cartilago banyak banyak dijumpai pada masa bayi terutama pada saat proses perkembangan embrio menjadi fetus. Pembentukan rangka fetus di dominasi oleh cartilago. Seiring dengan perkembangan fetus menjadi bayi dan memasuki usia pertumbuhan serta dewasa, maka cartilage ini akan mengalami peristiwa osifikasi. Tetapi tidak semua cartilago dalam tubuh, masih ada beberapa yang tetap menjadi cartilago. Seperti dijumpai pada trachea/tenggorokan, daun telinga, hidung bagian ujung, ruas-ruas persendian tulang.
Cartilago tersusun atas matriks condrin yaitu berupa cairan kental yang banyak mengandung zat perekat kolagen yang tersusun atas protein dan sedikit zat kapur/Carbonat.  Dengan adanya condrin ini dapat memberikan sifat lentur pada cartilago. Pada anak-anak cartilage lebih banyak mengandung sel pembentuk tulang rawan dari pada matriks, sedangkan pada orang dewasa berkebalikan.
Cartilago dibentuk oleh zat pembentuk tulang rawan yang disebut dengan Condrosit. Tulang rawan berawal dari selaput tulang rawan yang disebut pericondrium. Pericondrium berfungsi untuk memberikan kebutuhan nutrisi bagi cartilage karena banyak mengandung pembuluh darah. Dalam pericondrium  banyak mengandung condroblast yaitu sel pembentuk condrosit.
Cartilago berdasarkan kandungan matriksnya dibedakan menjadi :
a. Cartilago Hialin
Cartilago ini memiliki kandungan matriks homogen yang kaya akan serabut kolagen, transparan dan halus. Cartilago Hialin bersifat lentur/elastic dan kuat. Pada tubuh dapat dijumpai pada organ permukaan persendian, tulang iga dan pada saluran respirasi terutama dinding trachea yang berbentuk cincin.
b. Cartilago Fibrosa/serabut
Cartilago ini memiliki kandungan matriks berupa berkas-berkas serabut kolagen. Cartilago Fibrosa bersifat kurang lentur. Dapat dijumpai pada ruas-ruas tulang belakang, pada tulang tempurung lutut (tendon dan ligamentum) dan tulang gelang panggul.
c. Cartilago Elastin/elastic
Cartilago ini memiliki kandungan matriks berupa serabut elastic berwarna kuning yang bercabang-cabang. Bersifat lentur/elastic dan tidakakan berubah menjadi tulang sejati bila manusia beranjak  dewasa. Dapat dijumpai pada ujung hidung/cuping, saluran eustachius  (pada telinga bagian tengah)  dan daun telinga.

2) Tulang keras/tulang sejati/osteon
•    Osteon berfungsi :
1.    Sebagai penyusun sistem rangka tubuh.
2.    Sebagai pelindung organ-organ yang vital.
•    Pembagian tulang :
a. Berdasarkan bentuknya dibedakan menjadi :  (PIPIPEN)
Tulang pipa/panjang
Tulang ini pada umumnya berbentuk tabung, berongga dan memanjang. Pada kedua bagian ujungnya terjadi perluasan tulang. Fungsi dari perluasan ini untuk berhubungan dengan tulang yang lain. Pada rongga tulang ini berisi sumsum kuning dan lemak. Tulang  pipa terbagi menjadi 3 bagian yaitu epifise yaitu bagian dikedua ujung tulang yang berbentuk bonggol/membulat, kemudian bagian tengah tulang yang disebut diafise. Daerah antara diafise dengan epifise terdapat cakraepifise tepatnya lebih mengarah pada dekat ujung epifise) yang tersusun dari cartilago yang aktif membelah pada usia pertumbuhan. Pada orang dewasa cakraepifise ini sudah menulang. Tulang pipa dapat dijumpai pada Os. Humerus, Os. Radius, Os. Ulna, Os. Tibia, Os. Fibula, ruas-ruas Os. Digiti Phalanges Manus, dll.
Tulang pipih
Tulang pipih berbentuk gepeng memipih, tipis. Tulang ini tersusun dari 2 buah lempengan tulang kompak dan tulang spons. Rongga diantara kedua lempengan tulang tersebut terisi sumsum merah. Tulang pipih dapat dijumpai pada Os. Costae, Os. Scapula, Os. Sternum, Os. Cranium, dll.
Tulang pendek
Tulang pendek berbentuk bulat dan pendek tidak beraturan atau silinder kecil. Rongga tulang pendek berisi sumsum merah. Tulang pendek dapat dijumpai pada ruas-ruas Os. Vertebrae, ruas-ruas Os. Tarsal, ruas-ruas Os. Carpal, dll.

b. Berdasarkan matriksnya dibedakan menjadi :
Tulang kompak/padat
Yaitu merupakan tulang yang memiliki matriks padat dan rapat. Tidak dijumpai adanya celah tanpa matriks  dalam rongga tulang ini. Dapat dijumpai pada tulang pipa/tulang panjang.
Tulang spons/bunga karang
Yaitu merupakan tulang yang memiliki matriks yang tidak padat/berongga. Dapat dijumpai pada tulang pipih dan tulang pendek.

Osifikasi (proses penulangan)
Tulang pipa terbagi atas tiga bagian, yaitu bagian ujung disebut epifise, bagian tengahnya yang tersusun atas tulang keras disebut diafise, dan antara diafise dan epifise terdapat cakra epifise, yang terdiri atas tulang rawan dan banyak mengandung osteoblas (calon osteosit). Pada orang yang masih dalam pertumbuhan bagian inilah yang dapat bertambah panjang. Di dalam tulang pipa terdapat rongga. Rongga ini terjadi karena aktivitas osteoklas yang berfungsi merombak sel-sel tulang. Selanjutnya rongga itu berisi sumsum tulang. Sumsum ini berwarna kuning, yang merupakan campuran antara lemak dan sumsum merah.
Osifikasi adalah proses perubahan tulang rawan menjadi tulang keras. Rangka manusia telah terbentuk pada akhir bulan kedua, atau awal bulan ketiga pada waktu perkembangan embrio. Yang mula-mula terbentuk adalah tulang rawan. Kartilago berasal dari jaringan ikat embrional atau mesenkim. Di dalam kartilago terdapat rongga yang mengandung osteoblas. Peristiwa pengerasan tulang ini urutannya sebagai berikut:
1.    tulang rawan pada embrio banyak mengandung osteoblas, terutama pada bagian tengah epifise dan bagian tengah diafise serta pada jaringan ikat pembungkus tulang rawan
2.    osteobl
3.    as kemudian akan membentuk osteosit, (sel-sel tulang keras), yang tersusun melingkar membentuk suatu sistem Havers, yang banyak mengandung pembuluh darah serta serabut saraf
4.    osteosit mensekresikan zat protein yang akan menjadi matriks tulang, dan setelah mendapatkan tambahan senyawa Ca dan P, maka tulang akan mengeras
5.    terjadinya penulangan pada bagian epifise dan diafise akan menyebabkan terbentuknya daerah antara yang tidak mengalami penulangan yang disebut cakra epifise yang berupa tulang rawan yang banyak mengandung osteoblas
6.    bagian cakra epifise terus mengalami penulangan, sehingga bagian inilah yang dapat menyebabkan tulang tumbuh memanjang
7.    di bagian tengah tulang pipa terdapat osteoklas yang merombak sel-sel tulang yang telah terbentuk, sehingga terbentuk rongga yang berisi sumsum tulang

2.3.3    Sendi
Tempat bertemu dua atau tiga unsur rangka, baik tulang atautulang rawan dikatakan sebagai sendi atau artikulasi. Sendi ini mungkin temporer atau permanen. Srendi temporer terdapat selama masa pertumbuhan misalnya epifisis tulangpanjang menyatu dengan bagian batang tulang rawan hialin dari diskus epifisis.Sendi kemudian menghilang bila pertumbuhan berhenti dan epifisis menyatu dengan bagian batang. Tetapi kebanyakan sendi bersifat permanen dan dapat digolongkan berdasarkan ciri susunannya menjadi 3 golongan utama :
Klasifikasi Sendi Secara struktural :
•    Persendian fibrosa, yaitu persendian yang tidak memiliki rongga sendi dan diperkokoh dengan jaringan ikat fibrosa. Bila penyatuan ini sangat kuat sendi ini disebut sutura. Sutura banyak terdapat pada tengkorak dan tidak bersifat permanen karena jaringan fibrosa pengikat itu dapat diganti oleh tulang dikemudian hari. Penyatuan tulang yang dihasilkan itu dikenal sebagai sinostosis. Sendi pada tulang yang dipersatukan oleh jaringan ikat fibrosa yang jauh lebih banyak daripada yang terdapat pada sutura disebut sindesmosis. Sendi macam ini misalnya sendi radiolunar dan tibiofibular memungkinkan gerak pada batas tertentu. Jenis fibrosa ketiga adalah gomfosis merupakan sendi khusus terbatas pada gigi dalam maksila dan mandibula. Sendi fibrosa tidak memiliki lapisan tulang rawan.
•    Persendian kartilaginosa, yaitu persendian yang tidak memiliki rongga sendi dan diperkokoh dengan jaringan kartilago. Sendi ini sering dikatakan sebagai sendi kartilaginosa sekunder untuk membedakannya dari sendi primer, paling jelas ditunjukan sebagai contoh oleh sendi diantara badan-badan vertebra yang berdekatan. Permukaan tulang yang berhadapan dilapisi lembar-lembar tulang rawan hialin yang secara erat dipersatukan oleh lempeng fibrokartilago. Ada dua tipe sendi kartilaginosa. Sinkrondosis adalah sendi-sendi yang seluruh persendiannya diliputi oleh rawan hialin.  Sendi-sendi kostokondral adalah contoh dari sinkondrosis. Simfisis adalah sendi yang tulang-tulangnya memiliki suatu hubungan fibrokartilago antara tulang dan selapis tipis rawan hialin yang menyelimuti permukaan sendi. Simfisis pubis dan sendi-sendi pada tulang-tulang punggung adalah contoh-contohnya.
•    Persendian sinovial, yaitu persendian yang memiliki rongga sendi dan diperkokoh dengan kapsul dan ligament artikular yang membukuskan. Sendi sinovial merupakan sendi yang dapat mengalami pergerakkan, memiliki rongga sendi dan permukaan sendinya dilapisi oleh kartilago hialin. Kapsul sendi membungkus tendon-tendon yang melintasi sendi, tidak meluas tetapi terlipat sehingga dapat bergerak penuh. Sinovium menghasilkan cairan sinovial yang berwarna kekuningan, bening, tidak membeku, dan mengandung lekosit. Asam hialuronidase bertanggung jawab atas viskositas cairan sinovial dan disintesis oleh pembungkus sinovial. Cairan sinovial mempunyai fungsi sebagai sumber nutrisi bagi rawan sendi. Secara fisiologis sendi yang dilumasi cairan sinovial pada saat bergerak terjadi tekanan yang mengakibatkan cairan bergeser ke tekanan yang lebih kecil. Sejalan dengan gerakan ke depan, cairan bergeser mendahului beban ketika tekanan berkurang cairan kembali ke belakang. (Price, 2005; Azizi, 2004).
 
Dapat dibedakan menjadi :
Menurut sifat gerakannya persendian (sendi) dapat dibedakan menjadi yaitu :
1) SINARTHROSIS
Disebut juga dengan sendi mati. Yaitu hubungan antara 2 tulang yang tidak dapat digerakkan sama sekali. Artikulasi ini tidak memiliki celah sendi dan dihubungkan dengan jaringan serabut. Dijumpai pada hubungan tulang pada tulang-tulang tengkorak yang disebut sutura/suture.
2) AMFIARTHROSIS
Disebut juga dengan sendi kaku.Yaitu hubungan antara 2 tulang  yang dapat digerakkan secara terbatas. Artikulasi ini dihubungkan dengan cartilago.  Dijumpai pada hubungan ruas-ruas tulang belakang, tulang rusuk dengan tulang belakang.
3) DIARTHROSIS
Disebut juga dengan sendi hidup. Yaitu hubungan antara 2 tulang  yang  dapat digerakkan secara leluasa atau tidak terbatas karena tidak dihubungkan oleh jaringan. Untuk melindungi bagian ujung-ujung tulang sendi, di daerah persendian terdapat rongga yang berisi minyak sendi/cairan synovial yang berfunggsi sebagai pelumas sendi.Sedangkan sendi ini dapat dibedakan menjadi :
a) Sendi engsel yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan hanya satu arah saja. Dijumpai pada hubungan tulang Os. Humerus dengan Os. Ulna dan Os. Radius/sendi pada siku, hubungan antar Os. Femur dengan Os. Tibia dan Os. Fibula/sendi pada lutut.
b) Sendi pelana/sendi sellaris yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan kedua arah. Dijumpai pada hubungan antara Os. Carpal dengan Os. Metacarpal, sendi pada tulang ibu jari.
c) Sendi putar yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan salah satu tulang berputar terhadap tulang yang lain sebagai porosnya. Dijumpai pada hubungan antara Os. Humerus dengan Os. Ulna dan Os. Radius, hubungan antar Os. Atlas dengan Os. Cranium.
d) Sendi peluru/endartrosis yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan ke segala arah/gerakan bebas. Dijumpai pada hubungan Os. Scapula dengan Os. Humerus, hubungan antara Os. Femur dengan Os. Pelvis virilis.
e) Sendi geser yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan pada satu bidang  saja atau gerakan bergeser. Dijumpai pada ruas-ruas Os. Vertebrae, ruas-ruas Os. Metatarsal dan ruas-ruas Os. Metacarpal.
f) Sendi  luncur yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan badan melengkung ke depan (membungkuk) dan ke belakang serta gerakan memutar (menggeliat).
g) Sendi gulung yaitu hubungan antar tulang yang gerakan tulangnya seolah-olah mengitari tulang yang lain. Dijumpai pada hubungan Os. Metacarpal dengan Os. Radius.
h) Sendi ovoid yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan berporos dua, dengan gerak ke kiri dan ke kanan; gerakan maju dan mundur; gerakan muka/depan dan belakang.  Ujung tulang yang satu berbentuk ovaldanmasuk ke dalam suatu lekuk yang berbentuk elips. Dijumpai pada hubungan Os. Radius dengan Os. Carpal.

2.4.    Proses Biokimia alat gerak
Manusia dalam melakukan kegiatan/aktivitas setiap hari membutuhkan energi,baik untuk bergerak maupun untuk bekerja. Kemampuan tubuh manusia untuk melangsungkan kegiatannya dipengaruhi oleh struktur fisiknya. Tubuh manusia terdiri dari struktur tulang, otot, syaraf, dan proses metabolisme. Rangkah tubuh manusia disusun dari 206 tulang yang berfungsi untuk melindungi dan melaksanakan kegiatan fisiknya, dimana tulang-tulang tersebut dihubungkan dengan sendi-sendi otot yang dapat berkontraksi. Otot-otot ini berfungsi mengubah energi kimia menjadi energi mekanik, dimana kegiatannya dikontrol oleh sistem syaraf sehingga dapat bekerja secara optimal.
Hasil dari proses metabolisme yang terjadi di otot, berupa kumpulan proses kimia, yaitu energi mekanik dan energi panas. Proses dari pengubahan makanan dan air menjadi bentuk energi. Bahan makanan yang diproses pada sistem pencernaan yang meliputi Lambung diruai/dihaluskan menjadi seperti bubur, kemudian masuk ke usus halus untuk diserap bahan-bahan makanan tersebut yang selanjutnya masuk ke sistem peredaran darah, menuju ke sistem otot.
Begitu juga dengan udara yang dihirup melalui hidung akan masuk ke paru-paru/sistem pernafasan, dimana zat oksigen yang turut masuk keparu-paru selanjutnya oleh paru-paru dikirim ke sistem peredaran darah. Selain itu paru-paru berfungsi juga untuk mengambil karbondioksida dari sistem peredaran darah untuk dikeluarkan dari dalam tubuh. Selanjutnya oksigen yang telah berada di sistem peredaran darah dikirimkan ke sistem otot, yang akan bertemu dengan zat gizi untuk beroksidasi menghasilkan energi.
Selain menghasil energi, proses ini menghasilkan juga asam laktat yang dapat menghambat proses metabolisme pembentukan energi selanjutnya. Selama kebutuhan oksigen terpenuhi proses metabolisme, oksigensisa yang ada di dalam darah digunakan untuk menguraikan asam laktat menjadi glikogen untuk digunakan kembali menghasilkan energi kembali. Sebagian besar energi ini juga menjadi panas karena:
    Energi untuk sistesis protein dan unsur-unsur pertumbuhan lain. Bila protein disintesis menyebabkan banyak ATP digunakan untuk membentuk ikatan peptida dan ia menyimpan energi dalam rantai ini, terdapat pertukaran protein secara terus-menerus, sebagian di degradasi dan sementara protein lainnya di bentuk. Energi yang di simpan dalam ikatan peptida di keluarkan dalam bentuk panas ke dalam tubuh.
    Energi untuk aktivitas otot. Sebagian besar energy ini dengan mudah melawan viskositas otot itu sendiri atau jaringan sekelilingnya sehingga anggota badan dapat bergerak.Pergerakan liatini menyebabkan gesekan dalam jaringan akan menimbulkan panas.
    Energi untuk jantung memompa darah. Darah merenggangkan sistem arteri sehingga menyebabkan resevoar energi potensial. Pada saat darah mengalir melalui pembuluh darah kapiler, gesekan dari lapisan darah yang mengalir satu sama lain terhadap dinding pembuluh mengubah energi ini menjadi panas.
Oleh karena itu, dapat dikatakans emua energi  yang digunakan oleh tubuh diubah menjadi panas, kecuali di otot  yang  digunakan untuk melakukan beberapa bentuk kerja di luar tubuh.
Contoh pembentukan  ATP  dari bahan baku karbohidrat, lemak dan protein.

2.5.    Gizi yang dibutuhkan alat gerak
    Produksi susu, hati, ragi buah, gandum, serealia, sayuran, daging tanpa lemak.
Fungsinya    : Membantu pengeluaran energi, menjaga kesehatan kulit, selaput lendir, dan susunan saraf.
    Hati, berbagai jenis sayuran.
Fungsinya     :Membantu produksi sel darah, membantu mempertahankan susunan saraf.
    Sayur hijau, Susu, kacang-kacangan, daging.
Fungsinya    : Pembentukan tulang dan gigi, pembentukan darah, dan menjaga aktivitas saraf serta otot.
    Susu, Tepung, kacang-kacangan, daging, sayuran, telur, ikan.
Fungsinya    : Aktivasi saraf.
    Kacang-kacangan, sayuran hijau, daging, makanan laut, serealia.
Fungsinya    : Pembentukan tulang, menjalankan fungsi enzim, otot, dan saraf.

2.6.    Takbir
a. Struktur yang berperan dalam takbir:
M. deltoideus. M. pektoralis major, M. triceps brachii, M. biceps brachii, dan M. brachialis. Lig. collaterale ulnare, Lig. collaterale radiale, dan Lig. anulare radii. (pada sendi siku). Lig. coracoacromiale, dan Lig. coracohumirale. (pada sendi bahu). Os. humerus, Os. radius, Os. ulna, Os. scapula, dan Os. clavicula.
b. Posisi yang terdapat dalam takbir:
Pronatio lengan bawah,
Sendi pergelangan tangan; gerakan fleksi pada bidang sagital,
Sendi siku; gerakan pada bidang sagital,
Tangan; fleksi pada bidang sagital dengan mendekatkan anterior lengan bawah ke arah anterior lengan atas, dan Rotasi medial.
c. Manfaat gerakan takbir terhadap fisiologis:
Waktu takbiratul ihkram kedua tangan diangkat sejurus bahu, dan menempatkan ibu jari pada telinga, lalu meletakkan tangan kanan pada punggung telapak tangan kiri, tepat di atas dada atau sedikit di atas pusar.
Dalam hal meletakkan tangan ada beberapa versi, yaitu versi Abu Hanifah yang menfatwakan meletakkan kedua tangan di atas pusar. Dari segi ilmu kesehatan, lepas dari pertimbangan sahih-tidaknya derajat hadis, yang lebih tepat digunakan adalah versi Abu Hanifah, dengan alasan bahwa sikap tangan yang tepat diletakkan di atas pusar merupakan sikap yang membawa ketenangan, karena sendi siku tangan dan otot kedua tangan dapat rileks dan istirahat penuh dan bisa menghindarkan rasa lelah sekaligus memudahkan relaksasi.
Gerakan memulai shalat dengan mengangkat tangan sedemikian sehingga telapak menghadap kiblat di samping kanan kiri bahu atau wajah kita. Beberapa hal yang penting dibahas dari sisi medis adalah:
a.    Rongga dada melebar. Pada saat gerakan takbir, bahu terangkat sedikit, tulang-tulang rusuk ikut terangkat menimbulkan pelebaran rongga dada. Akibatnya tekanan udara di dalam rongga mengecil dan memudahkan udara nafas masuk dengan cepat.
b.    sekat rongga badan (diafragma) terlatih. Pada saat yang sama, kita harus mengucapkan kalimat takbir “ALLOHU AKBAR” padahal dinding dada sedang meregang. Untuk dapat mengucapkan suatu kata, udara harus mengalir keluar guna menggetarkan pita suara, maka tidak lain hal ini hanya bisa dikerjakan oleh sekat rongga badan (diafragma). Benar-benar suatu sinergisme yang rapi dan sangat efektif. Dan tentu saja sinergi ini juga berpengaruh terhadap fungsi-fungsi fisiologis lainnya karena pasti di otak terjadi asosiasi dan sinkronisasi pusat-pusat pengaturan gerakan dan kerja organ-organ dalam.
c.    Ketiak dibuka. Ketiak adalah stasiun regional utama bagi peredaran limfe (getah bening) yang merupakan kumpulan dari keseluruhan gerak bagian atas (tangan, lengan bawah. Lengan atas, dan bahu). Gerakan takbir ini adalah gerakan “active pumping” yang sangat bermanfaat.
d.    Setelah takbiratul-ihram kemudian tangan diletakkan di depan dada. Peletakan di dada dengan cara tangan kiri ditempelkan di dada, tangan kanan menempel di luar/atas tangan kiri. Cara yang demikian ini hanya bsia dilakukan dengan sedikit mengankat bahu, karena kalau tidak maka tangan akan terletak di perut. Cara ini pula yang dapat mempertahankan posisi ketiak sebagai stasiun peredaran limfe tetap terbuka. Tetapi, bagi orang yang malas dan shalatnya tidak sungguh-sungguh, tidak mau mengangkat sedikit bahunya, maka tangan hanya diletakkan di perut bahkan di bawah pusat.

2.7.    Rukuk
a.    Struktur yang berperan dalam rukuk
Vertebrae cervicales I-VII, vertebrae thoracicae I-XII, vertebrae lumbales I-V, atlastuberculumposterius, oshyoideum corpus, promontorium, M. splenius capitis, M. trapezius, acromionArticulatio sternoclavicularis, Articulatio acromioclavicularis,  Articulatio humeri, Articulatio cubiti ( Articulatio humeroulnaris, Articulatio humero radialis, Articulatio radioulnaris proximalis ), Articulatio radiocarpalis, Articulatio mediocarpalis, Articulatio carpometacarpales, Articulatio metacarpo phalangeae, Articulatio nesinterphalangeae manusginglymi. Clavicula, scapula, Humerus, Radius,Ulna, Carpus, Metacapus, phalanx, M. Deltoideus, M. Bisepsbrachii, M. Triceps barchii.

b.    Posisi yang terdapat dalam rukuk
    Gerakan badan : Fleksi
    Gerakan pergelangan tangan : Ekstensi
c.    Manfaat gerakan rukuk terhadap fisiologis
Gerakan ini bermanfaat untuk menjaga kesempurnaan posisi serta fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat saraf. Posisi jantung yang sejajar dengan otak saat membungkuk tersebut menjadikan aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi untuk merelaksasikan otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah sarana latihan bagi kemih sehingga gangguan prostate dapat dicegah.

2.8.    Sujud

a.    Struktur yang berperan dalam sujud
Articulatio humeri = sendi bahu, Articulatio cubiti = sendi siku, Articulatio mediocarpals dan Articulatio radiocarpal = sendi pergelangan tangan, Articulatio interfalangea = sendi interfalangea jari tangan, Articulatio coxae = sendi panggul, Articulatio genus = sendi lutut.
Articulatio tibiofibularis = sendi antara tibia dan fibula, Artikulatio talotarsalis = sendi pbergelangan kaki (articulatio talocalcanconavicularis = bag. Depan, articulatio subtalaris = bag. Belakang), Articulationes metatarsophalangeae = persendian dasar jari kaki,  Articulationes interphalangeae pedis = persendian jari kaki.
Os. Coxae, vertebrae, Femur, patella, fibula, tibia, digitorum (phalanx proksimalis, media, distalis), radius, ulnarius, humerus,carpals, metacarpals, phalanges. M. Gluteus maximus, M. Quadratus femoris, M. Piriformis. M. Biceps femoris, M. Semitendinosus dan M. Semimembranosus
Pada dorsal betis bagian permukaaan : M. Triceps surae, Pada ventral pangkal paha: M. Illiacus, M. Psoas mayor dan minor. M. Quadriceps femoris. M. Abductor digiti minimi, M. Flexor digiti minimi brevis dan M. Opponens digiti minimi.

b.    Posisi yang terdapat dalam sujud
1.    Ekstremitas atas:
a.    Jari tangan : fleksi
b.    Pergelangan tangan : fleksi
c.    Lengan bawah: ekstensi
d.    Siku:  adduksi, fleksi
e.    Bahu: fleksi
f.    Punggung : fleksi
2.     Ekstremitas bawah:
a.    Lutut : fleksi
b.    Telapak kaki : fleksi
c.    Mata kaki: dorsifleksi
d.    Jari kaki : ekstensi

c.    Manfaat gerakan sujud terhadap fisiologis
Gerakan sujud merupakan urutan-urutan dari gerakan-gerakan menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai. Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan oksigen. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinydapat memacu kecerdasan.
Pengaruh sujud terhadap peredaran darah di otak juga dapat dipahami. Elastisitas pembuluh darah merupakan faktor terpenting yang dapat mempertahankan tekanan darah. Debit darah yang naik karena posisi jantung lebih tinggi dari otak ini merupakan latihan otak menambah elastisitas pembuluh darah, pada gilirannya gerakan sujud bisa merupakan gerakan anti-stroke. Stroke terjadi bila terdapat pembuluh darah di otak tersumbat atau pecah, sehingga sebagian otak mengalami gangguan, tampak sebagai keadaan lumpuh sepauh badan.
Sujud juga dapat bermanfaat untuk memompa aliran getah bening ke bagian leher
dan ketiak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan. Dalam sujud badan dari belakang rata ke depan, kedua telapak tangan ditempelkan pada lantai/tanah, dan kaki ditekuk. Sujud adalah pijatan usus yang sudah
dimulai sejak ruku’. Dilakukan dengan meluruskan tulang belakang dan meregang otot hingga rongga perut mengecil. Otot yang bertambah kuat akan mencegah berbagai penyakit seperti heria dan membantu persalinan, sedangkan usus yang dipijat akan melancarkan peristalsis dan memudahkan buang air besar; aliran darah bebas hambatan akan mencegah ambeien. Muka yang menempel pada lantai Rasulullah Saw. Pernah bersabda, “jangan kau usap kerikil yang menempel di muka (wajah) mu itu akan menjadi mutiar kelak di surga”. Jika ditinjau dari kesehatan bahwa wajah / muka yang terkena kerikil dalam keadaan sujud adalah merupakan pijatan refleksi yang berfungsi melancarkan peredaran darah dan mengendorkan syaraf-syaraf yang ada di muka, sehingga jika syaraf-syaraf muka kendur dan peredaran darahnya lancar niscaya terhindar dari penyakit kepala, seperti pusing-pusing, migrant, dll.

2.9.    Duduk
a.    Struktur yang berperan dalam duduk
Os. Coxae, Femur, patella, fibula, tibia, digitorum (phalanx proksimalis, media, distalis), Articulatio coxae = sendi panggul, Articulatio genus = sendi lutut, Articulatio tibiofibularis = sendi antara tibia dan fibula, Artikulatio talotarsalis = sendi pergelangan kaki (articulatio talocalcanconavicularis = bag. Depan, articulatio subtalaris = bag. Belakang), Articulationes metatarsophalangeae = persendian dasar jari kaki, Articulationes interphalangeae pedis = persendian jari kaki.
Pada panggul:  M. Gluteus maximus, M. Quadratus femoris, M. Piriformis. Pada dorsal paha: M. Biceps femoris, M. Semitendinosus dan M. Semimembranosus Pada dorsal betis bagian permukaaan : M. Triceps surae Pada ventral pangkal paha: M. Illiacus, M. Psoas mayor dan minor. Pada ventral paha : M. Quadriceps Telapak kaki: M. Abductor digiti minimi, M. Flexor digiti minimi brevis dan M. Opponens digiti minimi.
b.    Posisi yang terdapat dalam duduk
    Pada sendi panggul: abduksi, ektensi, rotasi ke luar. Pada sendi lutut: ektensi. Pada sendi panggul: Ekstensi, adduksi. Pada sendi lutut: fleksi, rotasi ke luar. Pada panggul: ekstensi, adduksi, rotasi ke dalam. Pada lutut: flexsi, rotasi ke dalam. Pada sendi lutut: flexi, pada sendi pergelangan kaki bagian atas: flexi dan bagian bawah: supinasi. Pada sendi panggul : flexi. Pada sendi lutut: ekstensi. Pada sendi pangkal jari kaki kelima: abduksi, fleksi, oposisi.
c.    Manfaat gerakan duduk terhadap fisiologis
Cara duduk di antara dua sujud dapat  menyeimbangkan system kerja elektrik serta saraf keseimbangan tubuh kita. Selain itu, gerakan ini dapat menjaga kelenturan saraf di bagian paha  dalam, cekungan lutut, cekungan betis, sampai jari-jari kaki. Kelenturan saraf ini dapat mencegah penyakit prostat, diabetes, sulit buang air kecil dan hernia.
Pada saat duduk tasyahud awal, lipatan paha dan betis bertemu. Gerakan ini dapat mengaktifkan kelenjar keringat sehingga dapat mencegah pengapuran dan mengoptimalkan kaki sebagai penopang tubuh kita.
Gerakan ini lebih baik dari gerakan bersila. Berguna untuk membongkar pengapuran pada cekungan kaki kiri agar saraf keseimbangan yang berhubungan dengan saraf mata akan terjaga dengan baik sehingga konsentrasi akan meningkat dan terjaga

2.10.    Menggerakkan jari-jari tangan
a.    Struktur yang berperan dalam menggerakkan jari-jari tangan
Ekstremitas atas terdiri atas tulang skapula, klavikula, humerus, radius, ulna, karpal, metakarpal, dan tulang-tulang phalangs.
Skapula merupakan tulang yang terletak di sebelah posterior tulang kostal dan berbentuk pipih seperti segitiga.Skapula memiliki beberapa proyeksi (spina, korakoid) yang melekatkan beberapa otot yang berfungsi menggerakkan lengan atas dan lengan bawah.Skapula berartikulasi dengan klavikula melalui acromion. Sebuah depresi (cekungan) di sisi lateral skapula membentuk persendian bola-soket dengan humerus, yaitu fossa glenoid.
Klavikula merupakan tulang yang berartikulasi dengan skapula di sisi lateral dan dengan manubrium di sisi medial. Pada posisi ini klavikula bertindak sebagai penahan skapula yang mencegah humerus bergeser terlalu jauh.
Humerus merupakan tulang panjang pada lengan atas, yang berhubungan dengan skapula melalui fossa glenoid.
Ulna merupakan tulang lengan bawah yang terletak di sisi medial pada posisi anatomis.Di daerah proksimal, ulna berartikulasi dengan humerus melalui fossa olecranon (di bagian posterior) dan melalui prosesus coronoid (dengan trochlea pada humerus).Artikulasi ini berbentuk sendi engsel, memungkinkan terjadinya gerak fleksi-ekstensi.Ulna juga berartikulasi dengan radial di sisi lateral.Artikulasi ini berbentuk sendi kisar, memungkinkan terjadinya gerak pronasi-supinasi.Di daerah distal, ulna kembali berartikulasi dengan radial, juga terdapat suatu prosesus yang disebut sebagai prosesus styloid.
Radius merupakan tulang lengan bawah yang terletak di sisi lateral pada posisi anatomis. Di daeraha proksimal, radius berartikulasi dengan ulna, sehingga memungkinkan terjadinya gerak pronasi-supinasi. Sedangkan di daerah distal, terdapat prosesus styloid dan area untuk perlekatan tulang-tulang karpal antara lain tulang scaphoid dan tulang lunate.
Tulang karpal terdiri dari 8 tulang pendek yang berartikulasi dengan ujung distal ulna dan radius, dan dengan ujung proksimal dari tulang metakarpal.Antara tulang-tulang karpal tersebut terdapat sendi geser.Ke delapan tulang tersebut adalah scaphoid, lunate, triqutrum, piriformis, trapezium, trapezoid, capitate, dan hamate.
Metakarpal terdiri dari 5 tulang yang terdapat di pergelangan tangan dan bagian proksimalnya berartikulasi dengan bagian distal tulang-tulang karpal.Persendian yang dihasilkan oleh tulang karpal dan metakarpal membuat tangan menjadi sangat fleksibel.Pada ibu jari, sendi pelana yang terdapat antara tulang karpal dan metakarpal memungkinkan ibu jari tersebut melakukan gerakan seperti menyilang telapak tangan dan memungkinkan menjepit/menggenggam sesuatu.Khusus di tulang metakarpal jari 1 (ibu jari) dan 2 (jari telunjuk) terdapat tulang sesamoid.
Tulang-tulang phalangs adalah tulang-tulang jari, terdapat 2 phalangs di setiap ibu jari (phalangs proksimal dan distal) dan 3 di masing-masing jari lainnya (phalangs proksimal, medial, distal).Sendi engsel yang terbentuk antara tulang phalangs membuat gerakan tangan menjadi lebih fleksibel terutama untuk menggenggam sesuatu.
Tangan dan jari-jari manusia mempunyai 4 tipe dasar gerak. Ini termasuk fleksi, ekstensi , pronasi , dan supinasi.Tangan ini mampu dua jenis gerakan tambahan, adduksi.


2.11.    Berjalan
a.    Struktur yang berperan dalam berjalan
M. Gluteus minimus, M. Gluteus maximus, M. Piriformis, M. obturatorius internus, M. gamellus superior, M. gamellus inferior, M. quadriceps femoris, M. Sartorius, M. tensor fasciae latae, M. pectineus, M. Pectineus, M. Gracilis, M. fibularis brevis, M. Gastrocnemius, M. Plantaris, M. Popliteus, M. tibialis posterior, M. flexor digitorum longus, M. flexor hallucis longus, M. Gluteus medius, M. adductor brevis, M. adductor longus, M. adductor magnus, M. biceps femoris, M. semitendinosus, M. semimembranosus, M. tibialis anterior, M. extensor hallucis longus, M. extensor digitorium longus, M. fibularis tertius, M. fibularis longus
Pelvis terdiri atas sepasang tulang panggul (hip bone) yang merupakan tulang pipih. Masing-masing tulang pinggul terdiri atas 3 bagian utama yaitu ilium, pubis dan ischium. Ilium terletak di bagian superior dan membentuk artikulasi dengan vertebra sakrum, ischium terletak di bagian inferior-posterior, dan pubis terletak di bagian inferior-anterior-medial.Bagian ujung ilium disebut sebagai puncak iliac (iliac crest).Pertemuanantara pubis dari pinggul kiri dan pinggul kanan disebut simfisis pubis.Terdapat suatu cekungan di bagian pertemuan ilium-ischium-pubis disebut acetabulum, fungsinya adalah untuk artikulasi dengan tulang femur.
Femur merupakan tulang betis, yang di bagian proksimal berarti kulasi dengan pelvis dandi bagian distal berarti kulasi dengan tibia melalui condyles.Di daerah proksimal terdapat prosesus yang disebut trochanter mayor dan trochanter minor, dihubungkan oleh garis intertrochanteric.
Di bagian distal anterior terdapat condyle lateral dan condyle medial untuk artikulasi dengan tibia, serta permukaan untuk tulang patella. Di bagian distal posterior terdapat fossa intercondylar.
Tibia merupakan tulang tungkai bawah yang letaknya lebih medial dibanding dengan fibula. Di bagian proksimal, tibia memiliki condyle medial dan lateral di mana keduanya merupakan facies untuk artikulasi dengan condyle femur. Terdapat juga facies untuk berartikulasi dengan kepala fibula di sisi lateral.Selain itu, tibia memiliki tuberositas untuk perlekatan ligamen. Di daerah distal tibia membentuk artikulasi dengan tulang-tulang tarsal dan malleolus medial.
Fibula merupakan tulang tungkai bawah yang letaknyalebih lateral dibandingdengan tibia. Di bagian proksimal, fibula berartikulasi dengan tibia. Sedangkan di bagian distal, fibula membentuk malleolus lateral dan facies untuk artikulasi dengan tulang-tulang tarsal.
Tarsal merupakan 7 tulang yang membentuk artikulasi dengan fibula dan tibiadi proksimal dan dengan metatarsal di distal.Terdapat 7 tulang tarsal, yaitu calcaneus, talus, cuboid, navicular, dan cuneiform (1, 2, 3).Calcaneus berperan sebagai tulang penyanggah berdiri.
Metatarsal merupakan 5 tulang yang berartikulasi dengan tarsal di proksimal dan dengan tulang phalangs di distal.Khusus di tulang metatarsal 1 (ibujari) terdapat 2 tulang sesamoid.
Phalangs merupakan tulang jari-jari kaki. Terdapat 2 tulang phalangs di ibu jari dan 3 phalangs di masing-masing jari sisanya. Karena tidak ada sendi pelana di ibu jari kaki, menyebabkan jari tersebut tidak sefleksibel ibu jari tangan.
Otot rangka atau otot serat-lintang adalah otot yang melekat ditulang dan bertanggung jawab atas gerakan tulang-tulang dalam kaitannya satu sama lain. Otot rangka ini dipersarafi oleh system saraf somatic dan berada di bawah control kesadaran. Otot rangka membentuk sekitar 40% dari berat tubuh pria dan 32% dari berat tubuh wanita. Otot rangka tersusun atas sejumlah besar serat-serat otot. Sel-sel silindris tidak bercabang. Otot ini disokong oleh jaringan ikat dan mempunyai banyak suplai darah dan saraf. Setiap sel mempunyai banyak nuclei dan mempunyai penampilan lurik. Dindingnya atau sarkolema, mengandung myofibril yang dibungkus dengan rapat dalam sarkoplasma cair.
Tendon adalah tali atau urat daging yang kuat yang bersifat fleksibel, yang terbuat dari fibrous protein (kolagen). Tendon berfungsi melekatkan tulang dengan otot atau otot dengan otot. Ligament adalah pembalut/selubung yang sangat kuat, yang merupakan jaringan elastic penghubung yang terdiri atas kolagen. Ligament membungkus tulang dengan tulang yang diikat oleh sendi. Ligament dibagi 2 yaitu : ligament jaringan tipis dan ligament jaringan elastic kuning.

b.    Posisi yang terdapat dalam berjalan
Sendi     Jenis Sendi     Gerakan
Sendi panggul (Articulatio coxae), Sendi peluru, Articulatio spheroidea Flexi (Anterversi), Extensi(retroversi)
Adduksi,Abduksi
Rotasi ke dalam,ke luar Sendi Lutut (Articulatio genus) Sendi sudut putar(sendi engsel)
Articulatio ginglimus  Flexi
Ekstensi Rotasi ke dalam,ke luar Sendi pergelangan kaki bagian atas (articulatio talocruralis)     
Sendi engsel Ginglymus Fleksi
ekstensi
Pergelangan kaki bagian bawah(Articulatio talotarsalis)
•     Articulatio   Talocalcaneonavicularis (bagian depan)
•    Articulatio subtalaris( bagian belakang  Kombinasi sendi peluru dan sendi pasak Supinasi Pronasi

c.    Manfaat berjalan terhadap fisiologis
    Menghindarkan dari diabetes tipe 2. Program pencegahan diabetes memperlihatkan, jalan kaki 150 menit per minggu akan mengurangi 7 persen berat badan Anda atau sekitar 7 kg. Lebih penting lagi mampu menurunkan penyakit diabetes hingga 58 persen.
    Memperkuat jantung pria. Dalam sebuah penelitian, tingkat kematian pada pria pensiun yang berjalan kaki kurang dari 1 mil per hari dua kali lebih banyak dibanding mereka yang  menempuh jarak 2 mil per hari.
    Memperkuat jantung wanita. Studi yang dilakukan pada 72.488 wanita memperlihatkan, jalan kaki 3 jam per minggu akan mengurangi risiko terkena serangan jantung atau jenis penyakit jantung lain.
    Baik untuk otak. Dalam studi tentang jalan kaki ditemukan, wanita yang berjalan 1,5 jam per minggu memiliki fungsi kerja organ kepala yang lebih baik daripada mereka yang hanya berjalan 40 menit per minggu.
    Baik untuk tulang. Riset memperlihatkan bahwa wanita menopause yang berjalan kurang lebih 1 mil per hari memiliki kepadatan tulang lebih baik daripada mereka yang  sedikit berjalan kaki, dan jalan kaki sangat efektif untuk menurunkan kehilangan massa tulang di bagian kaki.
    Mengurangi gejala depresi. Jalan kaki selama 30 menit, 3-5 kali per minggu selama 12 minggu, mengurangi gejala depresi.
    Mengurangi risiko kanker payudara dan kolon. Wanita yang berjalan secara rutin 65 menit hinga 135 menit per minggu bisa mengurangi risiko terkena kanker payudara dan kolon hingga 18 persen dibandingkan wanita yang tidak aktif. Studi memperlihatkan, olahraga dapat mencegah kanker kolon. Untuk orang yang telah terkena kedua kanker, olahraga mampu meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi angka kematian.
    Meningkatkan kebugaran. Jalan kaki 3 kali per minggu selama 30 menit dapat meningkatkan kebugaran dan sistem pernapasan secara signifikan.
    Jalan kaki singkat pun meningkatkan kebugaran. Studi yang dilakukan pada pejalan kaki wanita memperlihatkan, jalan kaki singkat sekitar 10 menit per hari pun punya efek buat kesehatan. Hasilnya akan terlihat pada peningkatan kebugaran dan pengurangan lemak di tubuh, kalau dilakukan hingga 30 menit per hari.
    Meningkatkan fungsi fisik. Riset memperlihatkan, jalan kaki bisa meningkatkan kebugaran dan fungsi kerja tubuh serta melindungi tubuh dari penyakit degeneratif pada orang lanjut usia.

BAB III
PENUTUP
3.1     Kesimpulan
Dalam melakukan setiap gerakan diperlukan kerja sama dari berbagai alat gerak seperti otot, tulang, sendi, dan komponen lainnya. Selain itu juga diperlukan zat-zat gizi untuk menunjang kekuatan dari komponen di atas dalam melakukan setiap gerakan. Setiap otot, tulang, dan sendi memiliki fungsi masing-masing yang dapat membantu manusia dalam bergerak dan melakukan aktivitas.


DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. Moh. Sholeh. 2008. Bertobat Sambil Berobat; Rahasia Ibadah untuk Mencegah dan Menyembuhkan Berbagai penyakit. Jakarta Selatan: Penerbit Hikmah
Hadisumarto,Suhargono.1997.Biologi-2b.Jakarta:Bumi Aksara.
Keeton,William T.1980.Biology Science.Library of Congress in Publication Krass.
Kimbal,John W.1983.Biology 3rd ed.Addison Wesley.
R. Putz & R. Pabst. 2006. SOBOTTA: Atlas Anatomi Manusia, Edisi 22, Jilid 1. Diterjemahkan oleh: dr. Y. Joko Suyono. Jakarta ; EGC)
Richard S. Snell. 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran, Edisi 6. Diterjemahkan oleh Liliana Sugiharto. Jakarta: EGC
dr. Sagiran, M.Kes., Sp.B. 2007. MUKJIZAT GERAKAN SHALAT. Jakarta Selatan : Qultum Media

Laporan Biokimia Sistem BMD

Diposkan oleh SCIENTIFIC... | 18.46 | 1 komentar »



A.    Tujuan Praktikum
­    Untuk menentukan pada wanita hamil, bila positif (+) maka kemungkinan ada glukosa dan laktosa.
­    Mengetahui bahwa glukosa dapat mereduksi pereaksi benedict.
­    Mengetahui bahwa laktosa dapat mereduksi pereaksi benedict.
­    Mengetahui bahwa glukosa dapat difermentasikan oleh sel-sel ragi.

B.    Tinjauan Pustaka

Karbohidrat sangat akrab dengan kehidupan manusia. Karena ia adalah sumber energi utama manusia. Contoh makanan sehari-hari yang mengandung karbohidrat adalah pada tepung, gandum, jagung, beras, kentang, sayur-sayuran dan lain sebagainya.
Karbohidrat adalah polihidroksildehida dan keton polihidroksil atau turunannya. selian itu, ia juga disusn oleh dua sampai delapan monosakarida yang dirujuk sebagai oligosakarida. Karbohidrat mempunyai rumus umum Cn(H2O)n. Rumus itu membuat para ahli kimia zaman dahulu menganggap karbohidrat adalah hidrat dari karbon.
Karbohidrat, berdasarkan massa, merupkan kelas biomolekul yang paling melimpah di alam. Rumus empiris karbohidrat dapat dituliskan sebagai berikut: Cm(H2O)n atau (CH2O). Tetapi ada juga karbohidrat yang mempunyai rumus empiris tidak seperti rumus diatas, yaitu deoksiribosa, deoksiheksosa dan lain- lain Semua jenis karbohidrat terdiri atas unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), dan Oksigen (O). Perbandingan antara hydrogen dan oksigen pada umumnya adalah 2:1 seperti halnya dalam air; oleh karena itu diberi nama karbohidrat. Dalam bentuk sederhana, formula umum karbohidrat adalah CnH2nOn. Hanya heksosa (6-atom karbon), serta pentosa (5-atom karbon), dan polimernya memegang perana penting dalam ilmu gizi.
Lebih lazimnya dikenal sebagai gula, karbohidrat merupakan produk akhir utama penggabungan fotosintetik dari karbon anorganik (CO2) ke dalam zat hidup. Karbohidrat bertindak sebagai sumber karbon untuk sintesis biomolekul lain dan sebagai bentuk cadangan polimerik dari energi. Karbohidrat juga dapat didefinisan sebagai polihidroksialdehid atau polihidroksiketon dan derivatnya. Suatu karbohidtrat merupakan suatu aldehid (-CHO) jika oksigen karbonil berkaitan dengan suatu atom karbon terminal, dan suatu keton (=C=O) jika olsigen karbonil berikatan sengan suatu karbon terminal. Dalam alam, karbohidrat terdapat dalam monosakarida, oligosakarida dan polisakarida.
Karbohidrat mempunyai peranan penting dalam menentukan karakteristik bahan makanan, misalnya rasa, warna, tekstur, dan lain-lain. Sedangkan dalam tubuh, karbohidrat berguna untuk mencegah timbulnya ketosis, pemecahan protein tubuh yang berlebihan, kehilangan mineral, dan berguna untuk membantu metabolisme lemak dan protein.
Kedudukan karbohidrat sangatlah penting pada manusia dan hewan tingkat tinggi lainnya, yaitu sebagai sumber kalori. Karbohidrat juga mempunyai fungsi biologi lainnya yang tak kalah penting bagi beberapa makhluk hidup tingkat rendah, ragi misalnya, mengubah karbohidrat (glukosa) menjadi alkohol dan karbon dioksida untuk menghasilkan energi
C6H12O6 ——> 2C2H5OH + 2CO2 + energy
Beberapa turunan karbohidrat yang penting adalah glulosa, fruktosa dan Deosiribosa. Glukosa disebut juga gula anggur karena terdapat dalam buah anggur, gula darah karena terdapat dalam darah atau dekstrosa karena memutarkan bidang polarisasi kekanan. Glukosa merupakan monomer dari polisakarida terpenting yaitu amilum, selulosa dan glikogen. Glukosa merupakan senyawa organik terbanyak. terdapat pada hidrolisis amilum, sukrosa, maltosa, dan laktosa. Fruktosa terdapat dalam buah2an, merupakan gula yang paling manis. Bersama2 dengan glukosa merupakan komponen utama dari madu. Larutannya merupakan pemutar kiri sehingga fruktosa disebut juga levulosa. Ribosa da 2-deoksiribosa adalah gula pentosa yg membentuk RNA dan DNA.
Karbohidrat banyak terdapat dalam bahan nabati, baik berupa gula sederhana, heksosa, pentosa, maupun karbohidrat dengan berat molekul yang tinggi seperti pati, pektin, selulosa, dan lignin. Selulosa berperan sebagai penyusun dinding sel tanaman. Buah-buahan mengandung monosakarida seperti glukosa dan fruktosa.
Beberapa sifat karbohidrat antara lain:
1.    Mono dan disakarida memiliki rasa manis yang disebabkan oleh gugus hidroksilnya, oleh karena itu golongan ini disebut gula.
2.    Semua jenis karbohidrat akan berwarna merah apabila larutannya (dalam air) dicampur dengan beberapa tetes larutan α-naftol (dalam alcohol) dan kemudian dialirkan pada asam sulfat pekat dengan hati-hati sehingga tidak tercampur. Sifat ini dipakai sebagai dasar uji kualitatif adanya karbohidrat (uji Molisch)
3.    Warna biru kehijauan akan timbul apabila larutan karbohidrat dicampur dengan asam sulfat pekat dan anthroe. Warna ini timbul karena terbentuknya furfural dan hidroksi furfural sebagai senyawa derifat dari gula-gula.
Sedangkan sifat-sifat umum karbohidrat menurut Soeharsono (1978), adalah sebagai berikut:
1.     Daya mereduksi
Bilamana monosakarida seperti glukosa dan fruktosa ditambahkan ke dalam larutan luff maupun benedict maka akan timbul endapan warna merah bata. Sedangkan sakarosa tidak dapat menyebabkan perubahan warna. Perbedaan ini disebabkan pada monosakarida terdapat gugus karbonil yang reduktif, sedangkan pada sakarosa tidak. Gugus reduktif pada sakarosa terdapat pada atom C nomor 1 pada glukosa sedangkan pada fruktosa pada atom C nomor 2. Jika atom-atom tersebut saling mengikat maka daya reduksinya akan hilang, seperti apa yang terjadi pada sakarosa.
Larutan yang dipergunakan untuk menguji daya mereduksi suatu disakarida adalah larutan benedict. Unsur atau ion yang penting yang terdapat pada larutan tersebut adalah Cu2+ yang berwarna biru. Gula reduksi akan mengubah atau mereduksi ion Cu2+ menjadi Cu+ (Cu2O) yang mengendap dan berwarna merah bata. Zat pereduksi itu sendiri akan berubah menjadi asam.
2.     Pengaruh asam
Monosakarida stabil terhadap asam mineral encer dan panas. Asam yang pekat akan menyebabkan dehidrasi menjadi furfural, yaitu suatu turunan aldehid.
3.    Pengaruh alkali
Larutan basa encer pada suhu kamar akan mengubah sakarida. Perubahan ini terjadi pada atom C anomerik dan atom C tetangganya tanpa mempengaruhi atom-atom C lainnya. Jika D-glukosa dituangi larutan basa encer maka sakarida itu akan berubah menjadi campuran: D-glukosa, D-manosa, D-fruktosa. Perubahan menjadi senyawaan tersebut melalui bentuk-bentuk enediolnya. Bilamana basa yang digunakan berkadar tinggi maka akan terjadi fragmentasi atau polimerisasi. Sehingga monosakarida akan mudah mengalami dekomposisi dan menghasilkan pencoklatan non-enzimatis bila dipanaskan dalam suasana basa. Tetapi pada disakarida dalam suasana sedikit basa akan lebih stabil terhadap reaksi hidrolisis.

Menurut kompleksitasnya karbohidrat digolongkan sebagai berikut :
1.    Monosakarida
Monosakarida adalah monomer gula atau gula yang tersusun dari satu molekul gula berdasarkan letak gugus karbonilnya monosakarida dibedakan menjadi : aldosa dan ketosa. Sedang kan menurut jumlah atomnya dibedakan menjadi : triosa , tetrosa, dll. Monosakarida yang mengandung gugus aldehid dan gugus keton dapat mereduksi senyawa-senyawa pengoksidasi seperti : ferrisianida, hidrogen peroksida dan ion cupro. Pada reaksi ini gula direduksi pada gugus karbonilnya oleh senyawa pengoksidasi reduksi. Gula reduksi adalah gula yang mempunyai kemampuan untuk mareduksi. Sifat mereduksi ini disebabkan adanya gugus hidroksi yang bebas dan reaktif. ( lehninger, 1982) Hexoses
Sifat-sifat monosakarida
1. Semua monosakarida zat padat putih, mudah larut dalam air.
2. Larutannya bersifat optis aktif.
3. Larutan monosakarida yg baru dibuat mengalami perubahan sudut putaran disebut mutarrotasi.
4. Semua monosakarida merupakan reduktor sehingga disebut gula pereduksi.

2.    Disakarida
Tersusun oleh dua molekul monosakarida. Jika jumLahnya lebih dari dua disebut oligosakarida ( terdiri dari 2-10 monomer gula ). Ikatan antara dua molekul monosakarida disebut ikatan glikosidik yang terbentuk dari gugus hidroksil dari atom C nomer 1 yang juga disebut karbon nomerik dengan gugus hidroksil pada molekul gula yang lain. Ada tidaknya molekul gula yang bersifat reduktif tergantung dari ada tidaknya gugus hidroksil bebas yang reaktif yang terletak pada atom C nomer 1 sedangkan pada fruktosa teeletak pada atom C nomer 2. Sukrosa tidak mempunyai gugus hidroksil yang reaktif karena kedua gugus reaktifnya sudah saling berikatan. Pada laktosa karena mempunyai gugus hidroksil bebas pada molekul glukosanya maka laktosa bersifat reduktif .

3.    Polisakarida
Polisakarida adalah polimer yang tersusun oleh lebih dari lima belas monomer gula. Dibedakan menjadi dua yaitu homopolisakarida dan heteropolisakarida. Monosakarida dan disakarida mempunyai rasa manis, sehingga disebut dengan "gula". Rasa manis ini disebabkan karena gugus hidroksilnya,. Sedangkan Polisakarida tidak terasa manis karena molekulnya yang terlalu besar tidak dapat dirasa oleh indera pengecap dalam lidah (Sudarmadji, 1996).
Ciri- ciri umum Polisakarida, yakni :
• Merupakan polimer unit monosakarida
• Unit monomer bisa :
o Homopolisakarida
o Heteropolisakarida
• Berbeda antara satu dgn yg lain pada unit penyusunnya, ikatan yang menghubungkan, dan rantai cabang yg terbentuk saat bereaksi dengan senyawa lain.
Contoh polisakarida yang penting yakni pati, yang merupakan polimer glukosa terdiri dari 2 macam polisakarida, yakni amilosa yang tidak bercabang, dan amilopektin yang bercabang banyak (C 1-6 setiap 10-30 residu). Bila dihidrolisis akan terbentuk a amilase (endoglikosidase), tidak larut dalam air, sehingga banyak digunakan sebagai bentuk simpanan karbohidrat pada tanaman.
Identifikasi Karbohidrat
1. Uji umum untuk karbohidrat adalah uji Molisch. bila larutan karbohidrat diberi beberapa tetes larutan alfa-naftol, kemudian H2SO4 pekat secukupnya sehingga terbentuk 2 lapisan cairan, pada bidang batas kedua lapisan itu terbentuk cincin ungu.
2. Tes Fermentasi, karbohidrat difermentasikan dengan ragi dalam waktu singkat, tetapi biasanya memerlukan 2-3 jam untuk memperoleh hasil meksimal. Hasli dari inkubasi yang lebih lama memungkinkan aktivitas bakteri.
3. Tes Benedict, yang biasa digunakan sebagai uji aldehid. Tes ini dapat juga digunakan untuk membedakan karbohidrat yang mengandung gugus reduksi dari yang tidak mengandung gugus reduksi. Reagen ini mengandung CuSO4, Natrium sitrat dan natrium karbonat dan didalam alkalin, larutan tersebut tidak mengkatalisis reagen benedict menunjukkan tes positif.

4. Tes Barfoed, reagen ini mengandung tembaga (II) asetat dalam larutan asam laktat. Asam tidak cukup kuat untuk menghidrolisis karbohidrat. Tingkat reaksi yang ditunjukkan dengan perubahan warna dan terjadinya oengendapan adalah berbeda untuk gugus karbohidrat yang berbeda.
5. Reaksi Seliwanoff (khusus menunjukkan adanya fruktosa). Pereaksi seliwanoff terdiri dari serbuk resorsinol + HCl encer. Bila fruktosa diberi pereaksi seliwanoff dan dipanaskan dlm air mendidih selama 10 menit akan terjadi perubahan warna menjadi lebih tua.
6. Tes Iodin, yang akan memberikan perubahan warna bila bereaksi dengan beberapa polisakarida. Pati meberikan warna biru gelap, dextrin memberikan warna merah, glikogen memebrikan warna coklat kemerahan. Selulosa, disakarida dan monosakarida tidak memberikan warna dengan iodine.
7. Tes Asam Galaktarat (music), oksidasi karbohidrat dengan HNO3, menghsilkan asam dikarboksilat. Asam dikarboksilat ini berbeda dalam hal kelarutan dan yang dihasilkan oleh galaktosa adakah tidak larut

C.    Alat dan Bahan
•    Tabung Reaksi : 2 buah
•    Tabung Peragian : 2 buah
•    Mortir dan Stamper   
•    Penjepit tabung reaksi
•    Penangas air
•    Pipet
•    Gelas Ukur
•    Larutan Glukosa 2%      4 tetes, Larutan Glukosa 1%    4 tetes, Larutan Glukosa 2%    20 ml
•    Larutan Laktosa 2%    20 ml
•    Benedict
•    Ragi roti yang telah dicairkan

D.    Cara Kerja
PERAGIAN
1.    Haluskan dalam sebuah mortar 2 gram ragi roti dengan 20 ml larutan glukosa 2%, dalam mortar yang lain haluskan dengan cara yang sama dengan 20 ml larutan laktosa 2%.
2.    Pindahkan campuran tersebut ke tabung peragian sampai bagian tertutup peragian terisi penuh.
3.    Perhatikan perubahan pada tabung peragian selama 1 jam

TEST BENEDICT (SEMI KUANTITATIF)
1.    Campurkan 2,5 ml pereaksi benedict kuantitatif dengan 4 tetes larutan glukosa 2%, lalu siapkan di dalam tabung reaksi lain dengan  cara yang sama tetapi menggunakan 4 tetes larutan glukosa 1%.
2.    Panaskan selama 5 menit pada penangas air mendidih atau didihkan di atas api kecil  selama 1 menit.
3.    Biarkan menjadi dingin perlahan-lahan
4.    Perhatikan perubahan warnanya.

WARNA          PENILAIAN    KADAR
Biru/Hijau Keruh       0                  -
Hijau/Kuning Hijau    +            Kurang dari 0,5%
Kuning Kehijauan    ++            0,5-1,0%
Jingga                     +++          1,0-2,0%
Merah                   ++++         Lebih dari 2%


E.    Hasil Pengamatan

Peragian






Glukosa  
Tidak Terdapat Perubahan Warna    
Memiliki sedikit gelembung-gelembung gas pada kedua ujung tabung. Gelembung gas sebelah kanan ujung tabung  lebih banyak daripada gelembung gas  yang berada disebelah kiri ujung tabung    
Terdapat sedikit penurunan cairan pada ujung tabung.
Laktosa
Tidak Terdapat perubahan warna
Tidak Timbul Gelembung
Tidak ada penurunan cairan

Test Benedict (semi kuantitatif)




Nama Karbohidrat              Warna          Penilaian    Kadar
Glukosa 1 % + Benedict     Hijau Kuning    +            Kurang dari 0,5%
Glukosa 2 % +benedict       Jingga             +++        1,0 – 2,0 %


F.    Analisa Data
Uji benedict dan peragian digunakan untuk menentukan ada tidaknya glukosa dan laktosa di dalam urin seseorang. Jika kedua atau pun salah satu hasil percobaan positif dapat dipastikan bahwa orang tersebut menderita penyakit diabetes mellitus, tetapi pada ibu hamil yang hasil uji laktosanya positif tidak berarti bawa ia mengidap diabetes mellitus. Hal ini dapat dimaklumi karena saat hamil tubuh memproduksi laktosa untuk pembentukan air susu ibu.
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan :
1.    Peragian
    Tabung Glukosa
            Campuran berwarna keputihan dengan busa putih. Setiap penambahan endapan terdapat gelembung. Munculnya gelembung-gelembung gas pada tabung reaksi menandakan bahwa gas CO2 telah dihasilkan yang merupakan hasil sampingan dari proses fermentasi, dan semakin lama gelembung gas yang terbentuk semakin banyak dan memenuhi mulut tabung reaksi. Terbentuknya gelembung gas CO2 ini menunjukkan bahwa glukosa pada campuran ini dapat difermentasikan.
            Bila dibandingkan dengan peragian laktosa, proses terjadinya reaksi peragian glukosa lebih cepat. Hal ini ditandai dengan cairan pencampuran ragi dan glukosa yang banyak keluar serta CO2 yang terbentuk.m Tidak berkurangnya kadar alkohol di dalam tabung peragian. Terdapat CO2 dalam proses peragian.
            Tabung dan cairan berisi CO2, sedangkan di dalam tabung itu sendiri terdapat alkohol yang menekan CO2 dan menyebabkan cairan keluar dari tabung peragian.
    Reaksi    : Ragi + Glukosa → Alkohol + CO2
    Tabung Laktosa
            Campuran tidak menghasilkan busa putih. Hal ini menandakan bahwa tidak ada gas CO2 sebagai hasil sampingan proses fermentasi yang terbentuk. Tidak terbentuknya gelembung gas CO2 ini menunjukkan tidak adanya reaksi peragian pada campuran ini yang menandakan bahwa laktosa tidak dapat difermentasi oleh ragi.
            Reaksi peragian lebih lambat jika dibandingkan dengan proses paragian glukosa. Cairan yang keluar dari tabung sedikit, kadar alkohol dan CO2 sangat sedikit. Hasil reaksi berbanding terbalik dengan hasil peragian glukosa.
            Dalam praktikum kali ini kami kurang berhasil karena ruang udara yang terdapat dalam larutan glukosa sangat sedikit, jumlah gelembung yang dihasilkan juga sangat sedikit. Hal tersebut dapat terjadi karena ragi yang kami gunakan dalam praktikum merupakan ragi yang sudah terkontaminasi oleh udara bebas sehingga hasil praktikum tidak valid.

2.    Hasil Percobaan Tes Benedict Semi Kuantitatif 
            Pada percobaan tabung satu menghasilkan warna biru kuning yang menandakan kadar laktosa 1%.  Percobaan pada tabung kedua menghasilkan warna jingga yang menandakan kadar glukosa 2%. Ketika reagen benedict dicampurkan dan dipanaskan dengan glukosa, glukosa memiliki elektron untuk diberikan. Tembaga (salah satu kandungan di reagen benedict) akan menerima elektron tersebut dan mengalami reduksi sehingga terjadilah perubahan warna. Selama proses ini Cu2+ tereduksi menjadi Cu+. Ketika Cu mengalami reduksi, glukosa memberikan salah satu elektronnya dan dioksidasi. Karena glukosa mampu mereduksi Cu pada benedict, maka glukosa disebut sebagai gula pereduksi.

G.    Kesimpulan
•    PERAGIAN
Setelah kami melakukan sesuai prosedur yang telah dijelaskan, kami pun menunggu berlangsungnya percobaan untu kmelihat hasilnya.Namun, saat  berlangsungnya reaksi ternyata kelompok kami belum berhasil secra sempurna. Hal tersebut itu di karenakan oleh  penggunaan ragi.  Ragi yang kami gunakan sudah terkontaminasi oleh udara luar yang mengakibatkan percobaan tersebut belum berhasil dengan sempurna.

•    UJI BENEDICT
Setelah kami melakukan sesuai prosedur yang ada dan setelah didiamkan beberapa saat tabung satu yang berisi campuran glukosa 1% dan larutan benedict menghasilkan warna hijau ke kuningan yang menandakan bahwa campuran tersebut memiliki kadar kurang dari 0,5%. Sementara dapa tabung kedua yang berisi campuran glukosa 2% dan larutan benedict menghasilkan warna jingga yang menandakan bahwa campuran tersebut memiliki kadar 1,0-2,0 %.
•    Larutan Glukosa dapat dilarutkan oleh sel-sel ragi  menjadi etanol dan gas  CO2.Sedangkan laktosa tidak dapat dilarutkan oleh sel-sel ragi menjadi etanol dan gas CO2.
•    Larutan glukosa dan laktosa merupakan gula pereduksi, hal ini disebabakan adanya gugus karbonil yang berpotensi bebas pada residu glukosa diman ujung pereduksinya adalh yang mengandung aldehida. Adanya gula reduksi pada suatu larutan ditandai dengan adanya perubahan warna khususnya merah tua pada larutan. Benedict Reagen digunakan untuk menguji atau memeriksa kehadiran gula pereduksi dalam suatu cairan. Monosakarida yang bersifat redutor, dengan diteteskannya Reagen akan menimbulkan endapan merah. Selain menguji adanya gula pereduksi, juga berlaku secara kuantitatif, karena semakin banyak gula dalam larutan maka semakin gelap warna endapan.

H.    Daftar Pustaka

Anonim. 2010. Fermentasi etanol oleh Saccharomyces serevisiae.
Anonim. 2010. Mikroba Fermentasi. http://www.Forumsains.com/index. Diakses pada tanggal  13 November 2011.
Kimbal, W. 1999. Biologi Jilid I Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga.
Latunra, Ilham. 2007. Diktat Biologi Dasar. Makassar : UPT MKU Universitas Hasanuddin.
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : UI-Press
Pudjaatmaka, handayana. 1990. Kamus Kimia. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


Latihan penulisan terminologi kedokteran

Diposkan oleh SCIENTIFIC... | 02.10 | 0 komentar »


07 September 2011
1.        Filariasis                           = penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang disebabkan oleh mikrofilaria dan ditularkan oleh beberapa jenis nyamuk
2.        Filaria                               = cacing Nematoda superfamili Filarioidea
3.        Endemis                           = penyakit yang selalu ada dalam satu komunitas
4.        Mikrofilaria                      = larva cacing Brugia malayi
5.        Kronis limfadema            = pembengkakan pada bagian tubuh tertentu seperti kaki, tangan, dan bagian tubuh lainnya
6.       Cline                                 = sekumpulan perbedaan struktur dan fungsi secara kontinu yang ditunjukkan oleh anggota-anggota suatu spesies sepanjang garis keturunannya.
7.        Elephantiasis                   = penyakit filaria kronis yang disebabkan infeksi Wucheria bancrofti/Brugia malayi ditandai radang dan obstruksi saluran limfatik
8.       Cyfluthrin                           = zat kimia golongan Pyrethroid ester yang terkandung dalam insektisida
9.        Insektisida                        = semua bahan yang digunakan untuk mengendalikan hama dari golongan serangga
10.    Malaria                             = penyakit menular endemik dibanyak daerah hangat di dunia disebabkan oleh obligat intrasel genus Plasmodium, biasanya ditularkan oleh gigitan nyamuk anopheles yang terinfeksi
11.    Etiology                           = ilmu pengetahuan atau teori tentang faktor-faktor yang menyebabkan penyakit serta metode masuknya faktor tersebut ke tubuh penjamu
12.    Prevalensi                         = jumlah keseluruhan orang yang sakit yang menggambarkan kondisi tertentu yang menimpa sekelompok penduduk tertentu pada titik waktu tertentu (Point Prevalence), atau pada periode waktu tertentu (Period Prevalence), tanpa melihat kapan penyakit itu mulai dibagi dengan jumlah penduduk yang mempunyai resiko tertimpa penyakit pada titik waktu tertentu atau periode waktu tertentu.
13.    Bionomik                         = hubungan organisme dengan lingkungan
14.    Kronis                              = bersifat menahun
15.    Observasi                         = pembelajaran yang dilakukan dengan sengaja/sistematis melalui pengamatan
16.    Spesies                             = jenis
17.    Anopheles                        = suatu genus nyamuk yang tersebar luas terdiri lebih dari 300 spesies banyak spesies merupakan vektor malaria beberapa adalah vektor Wuchereria bancrofti
18.    An. Barbirostris                = spesies dari nyamuk Anopheles
19.    An. Flavirostris                = spesies dari nyamuk Anopheles
20.    An. Subpictus                  = spesies dari nyamuk Anopheles
21.    An. Sundaicus                  = spesies dari nyamuk Anopheles
22.    Larva                                = fase telur pada serangga
23.    Habitat                             = tempat tinggal alamiah spesies
24.    Resistensi                         = kemampuan alamiah organisme untuk bertahan terhadap mikroorganisme/toksin yang diproduksi penyakit
25.    Susceptibility test kit       = antimicrobial susceptibility test
26.    Microbial                          = berkenaan dengan atau disebabkan oleh mikroba
27.    Impregnated paper           = tindakan fertilisasi
28.    Aspirator                          = alat yang digunakan untuk mengisap cairan atau gas yang ada di dalam suatu rongga
29.    P2M                                 = pemberantasan penyakit menular
30.    Bandiocarb                       = zat kimia golongan karbonat yang terkandung dalam insektisida
31.    Lambdacyhalothrin          = zat kimia yang terkandung dalam insektisida
32.    Permethrin                        =insektisida topikal yang digunakan pada pengobatan terhadap infestasi Pediculus humanus capitis (kutu kepala) dan telurnya, Sarcoptes scabiei, atau berbagai macam kutu.
33.    DDT                                 = dikloro-difenil-triklororfan, suatu pestisida hidrokarbon terklorinasi yang toksik secara moderat terhadap manusia dan hewan lain.
34.    Wuchereria                       = genus nematoda superfamili Filarioidea yang terutama menyerang manusia diberbagai negara dengan iklim panas
35.    Wuchereria bancrofti       = cacing benang berwarna putih yang menyebabkan elefantiasis, limfangitis, kiluria dengan menganggu sirkulasi limfe.
36.    Microphage                      = fagosit kecil misalnya sejenis neutrofil yang bergerak aktif
37.    Culex                                = genus nyamuk  suku Culicini subfamili Culicinae yang memiliki palpi pendek dan mempertahankan tubuhnya dalam posisi sejajar dengan permukaan tempat nyamuk ini hinggap. Banyak spesies Culex di seluruh dunia merupakan vektor agen penyebab penyakit pada manusiadan hewan lain.
38.    Cx. Quinqufasciatus        = spesies dari nyamuk Culex
39.    Cx. Vishui                        = spesies dari nyamuk Culex
40.    Aedes                               = suatu genus nyamuk suku Aedini, subfamili Culicinae, dengan sisik lebar yang rapat di kepala dan scutellum. Palpi pada  nyanuk betina ukurannya pendek dan berumbai jarang dan mempunyai tiga segmen yang sama panjang; pada nyamuk jantan  palpi panjang dan berumbai.
41.    Aedes aegypti                  = nyamuk demam kuning yang berkembang biak dekat perumahan dan menularkan urban yellow fever dan dengue, dapat juga menularkan filariasis dan ensefalitis.
42.    Populasi                            = kumpulan beberapa spesies
43.    Party rate                          = angka kelahiran
44.    Salinitas                            = salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh pada vitalitas organisme karena merupakan masking factor bagi organisme akuati
45.    Jentik                                = tahap larva pada nyamuk
46.    Parasit                              = tanaman atau hewan yang hidup dalam organisme hidup lain
47.    Etofenprox                       = senyawa yangmengandung unsur CHO yang hanya terdiri dari karbon, hidrogen, dan oksigen
48.    Sintetik pyretroid             = setiap zat dalam kelompok regulator pertumbuhan yang analog dengan hormon-hormon juvenil pada insekta dan mengganggu perkembangan larva insekta, digunakan untuk mengendalikan insekta yang berbahaya pada stadium dewasanya
49.    Infeksi                              = suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertaisuatu gejala klinis baik lokal maupun sitemik
50.    Karbamat                         = zat yang terkandung dalam insektisida
51.    Bifentrin                           = zat kimia yang terkandung dalam insektisida
52.    Zooprophylaksis               = hewan yang digunakan sebagai transmisi penyakit malaria
53.    Agnesia                            = perkembangan yang tidak sempurna
54.    Oxacillin                           = penisilin semisintetik yang resisten terhadap penisilinase yang digunakan dalam bentuk garam natrium  pada infeksi akibat organisme garam-positif yang resisten terhadap penisilin
55.    Lipoblast                          = sel jaringan penyambung khusus yang berkembang menjadi sel lemak
56.    Trombophilia                    = kecendrungan terjadinya trombosis
57.    Zootomy                          = pembedahan atau anatomi hewan
58.    Diagnostic                        = pengetahuan dan praktik dalam mendiagnosa penyakit
59.    Pathonomia                      = kumpulan ilmu pengetahuan mengenai hukum-hukum penyakit
60.    Tension cavity                  = rongga paru-paru di mana tekanan udara lebih besar daripada tekanan atmosfer
61.    Ageusia                            = tidak adanya sensasi rasa
62.    Fowlpox                           = penyakit menular pada unggas peliharaan dan burung, disebabkan oleh poxvirus ; gejala khas mencakup nodul-nodul epitel di bagian kulit tak berbulu terutama di gelambir, balung,dan tungkai bawah, kadang dengan lesi membranosa di saluran pernapasan
63.    Locator                             = alat atau instrumen untuk menentukan lokasi suatu objek
64.    Preeclampsia                    = toksemia pada kehamilan lanjut yang ditandai oleh hipertensi, edema, dan proteinuria
65.    Muralium                          = struktus histologik berupa sistem kompleks dinding yang saling berhubungan seperti yang terbentuk oleh chordae hepatis
66.    Plasmodia                         = bentuk jamak dari plasmodium
67.    Nauseant                          = agen yang menyebabkan mual
68.    Cryoprotective                 = mampu melindungi terhadap perlukaan karena pembekuan, seperti gliserol melindungi sel darah merah yang membeku
69.    Anamnesis                        = pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan melakukan serangkaian wawancara dengan pasien
70.    Filaricide                          = bahan yang merusak filaria
71.    Microrespirometer            = alat untuk menyelidiki penggunaan oksigen oleh jaringan yang terisolasi
72.    Lymphadenitis                 = peradangan satu atau lebih kelenjar getah bening yang biasanya disebabkan oleh fokus infeksi primer di tempat lain dalam tubuh
73.    Neoteny                           = kecenderungan untuk bertahan pada stadium larva, walaupun mencapai maturitas seksual
74.    Thiotrichales                     = suatu ordo berbagai bakteri dalam kelas Gammaproteobacteria, filum Proteobacteria yang cukup beragam, dikelompokkan atas dasar rangkaian rRNA 16; beberapa anggotanya merupakan parasit obligat pada beberapa binatang
75.    Obligate                           = bukan fakultatif ; perlu ; wajib ; mampu bertahan hidup hanya pada kondisi tertentu
76.    Microfibril                        = serat yang sangat halus, sering merupakan unit penyusunan serat yang lebih kompleks
77.    System                             = seperangkat atau serangkaian bagian-bagian atau keutuhan yang saling berhubungan atau saling tergantung satu dengan lainnya yang berfungsi bersama-sama untuk tujuan bersama yang lebih umum atau mnhasilkan akibat yang tidak mungkin dicapai oleh sala satu diantaranya bila bekerja sendirian
78.    Plastein                             = protein yang disintesis oleh pepsin dari produk pencernaan protein dalam lambung
79.    Symphoromyia                 = genus lalat famili Rhagionidae yang beberapa diantaranya adalah pengigit ganas hewan termasuk manusia
80.    Biodynamics                    = ilmu pengetahuan mengenai sifat dasar dan determinan seluruh tingkah laku organisme
81.    Ribophorins                      = dua kumpulan glikoprotein transmembran retikulum endoplasma kasar yang berkaitan dengan subunit besar ribosom selama proses translokasi; glikoprotein ini juga merupakan subunit oligosakaril transferese.
82.    Neoplasm                         = setiap pertumbuhan baru dan abnormal; secara khusus suatu pertumbuhan jaringan baru dengan pertumbuhan yang tidak terkontrol dan progresif
83.    Ptosis                                = turunnya kelopak mata atas akibat kelumpuhan nervus ketiga atau akibat inervasi simpatetik ; disebut juga blepharoptosis
84.    Osteoectasia                     = pelengkungan tulang
85.    Heterauxesis                     = pertumbuhan yang tidak seimbang pada suatu bagian dibandingkan dengan bagian lainnya
86.    Isontibody                        = antibodi yang dihasilkan oleh satu individu yang bereaksi dengan antigen dari individu lain pada spesies yang sama
87.    Onycholysis                     = terlepasnya lempeng kuku dari dasar kuku, biasanya dimulai pada ujung bebasnya dan berlanjut ke proksimal
88.    Coriobacteridae                = subkelas bakteri dalam kelas Actinobacteria hanya memiliki satu ordo
89.    Opsonin                            = zat yang mengikat antigen partikulat dan menginduksi fagositosis antigen tersebut oleh makrofag dan netrofil
90.    Nucleotidase                    = enzim golongan hidrolase yang mengatalisis pemecahan nukleotida menjadi nukleosida dan ortofosfat
91.    Precaution                        = suatu tindakan pencegahan yang diambil dalam tahap lanjut
92.    Fundus                             = tata nama anatomi untuk dasar atau basis suatu organ atau bagian suatu organ berongga yang terjauh dari mulutnya
93.    Leptoprosopia                  = wajah yang sempit, dengan penampilan yang kurus, bulat, orbita yang membuka, hidung mancung, cuping hidung sempit dan mulut kecil
94.    Vasodepresor                   = mempunyai efek menurunkan tekanan darah melalui penurunan resistensi perifer
95.    Senopia                            = suatu penurunan presbiopia yang nyata pada orangtua, dihubungkan dengan perkembangan sklerosis nuklear dan miopia yang timbul
96.    Rhigosis                           = kemampuan merasakan dingin
97.    Pyroxylin                          = produk yang dihasilkan dari kerja campuran asam nitrat dan asam sulfat terhadap kapas ; produk ini terutama terdiri atas selulosa tetranitrat; unsur penting dari collodion
98.    Reintegration                   = integrasi biologi setelah terjadi keadaan gangguan
99.    Mycobacteriosis               = penyakit yang disebabkan oleh mikobakterium
100.Pathogenesis                    = perkembangan keadaan sakit atau penyakit; lebih khusus lagi reaksi dan peristiwa selular dan mekanisme patologik lainnya yang terjadi dalam perkembangan penyakit