CERPEN aneh

Diposting oleh SCIENTIFIC... | 07.31 | 0 komentar »

Siang itu, nenek dari seorang anak emas keluarga Ferdinand, meninggal dunia. Kania Dhiega Ferdinand bingung melihat banyak isak tangis di samping neneknya yang tertidur pulas. Kania belum mengerti apa yang terjadi, karena saat itu usianya masih menginjak 5 tahun. Yang dia tahu hanyalah nenek yang sangat disayanginya terbaring dengan berselimutkan kain batik berwarna cokelat. Dia penasaran dan bertanya pada ibunya.
“Bun, ada apa? Kok pada nangis? Nenek kenapa bun ditutupin?”
Ibunya hanya menangis tersedu-sedu tak dapat menjawab pertannyaan sang anak.
“Ih, Bunda kenapa sih? Aku nanya kok malah nangis?”
Karena kesal melihat sang ibu yang tidak menjawab pertanyaannnya, Kania pun berlari menuju ayahnya yang berada di teras rumah. Dan memberikan pertanyaan yang sama seperti apa yang Kania berikan ke ibunya. Namun sang ayah tidak kunjung menjawab, dia berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
“Oh, gak ada apa-apa kok nak. Sini ayah gendong.” Sahut sang ayah.
***
Kematian ibu dari bunda Kania lusa lalu merupakan sebuah guncangan besar bagi keluarga Ferdinan. Ibu Kania merasa belum ikhlas akan musibah tersebut karena selama ini hanya nenek orang yang dia jadikan tempat berbagi cerita. Belum lagi harta goni gini yang seharusnya menjadi miliknya selaku pewaris tunggal ludes seketika entah siapa yang menghabiskan.
Sebulan berlalu kehidupan Kania berubah total. Pertengkaran kedua orang tua Kania yang diawali saling menyalahkan atas meninggalnya sang nenek tidak kunjung berhenti. Sedangkan Kania hanya mengurung diri di kamar dan tidak menghiraukan keributan yang terjadi di ruang keluarga.
Tibalah malam yang seakan menjadi malam paling menyedihkan untuk Kania. Talak satu keluar dari bibir ayah yang mungkin telah lelah mendengar cacian istri tercinta yang selalu menjadikan dirinya kambing hitam atas kematian ibunya. Tanpa pikir panjang ibu Kania setuju untuk diceraikan dengan syarat hak asuh Kania diberikan seutuhnya untuknya. Namun ayah Kania tidak setuju memberikan hak auh Kania, karena dia juga sangat menyayangi Kania. Pertengkaran pun terjadi kembali dengan masalah baru. Sungguh Kania yang belum mengerti hanya bisa menangis dibalik pintu kamar.
“Kania sayang, sini sebentar nak!” Panggil Ibu dengan nada lembut.
“Iya bun, ada apa?” mendekat perlahan sambil menghapus air mata.
“Kania sayang kamu ikut bunda ya sekarang?”
“Pergi ke mana Bund? Sama ayah juga kan Bund?
“Kita pergi berdua aja.”
“Bund jangan seenaknya ngajak Tania pergi. Emang kamu pikir dia sudah jadi milikmu? Lebih baik kita serahkan masalah hak asuh ini ke pengadilan.
“Oke saya setuju.”
Kania menjadi korban keegoisan kedua orangtuanya yang memaksanya bersikap dewasa diusianya yang masih kecil. Dua bulan berselang, hubungan keluarga itu pecah di atas meja hijau. Belum cukup puas mereka membuat Kania tegar dalam kesedihannya. Hingga keputusan hakimyang menjatuhkan hak asuh Kania pada sang ayah. Namun sang ibu tidak menerima keputusan tersebut dan memutuskan untuk melakukan banding. Namun, hal itu tidak berhasil merubah keputusan hakim. Kania bingung kenapa dia harus memilih untuk tinggal bersama salah satu orangtuanya yang sama-sama Kania saayang. Namun Kania tidak berbuat apa-apa, yang dia lakukan hanya diam dan mengikuti aturan ayah dan bunda tersayang yang sebenarnya mereka tidak mengerti akan kepiluan yang dirasakan oleh Kania.
***
Sepuluh tahun kemudian, Kania sadar bahwa perceraian telah memisahkannya dengan bunda tercinta yang terakhir kali ia temui empat tahun lalu ketika sang ibu mendapatkan pria pengganti ayahnya. Kania merasa semakin sendiri karena setelah pernikahan itu, dia sudah tidak mendapat perhatian lagi dari ibunya. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa dia mengaggap ini adalah proses pendewasaan yang akan membawanya pada kebahagiaan. Kini yang dapat ia lakukan adalah belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat membuat orang tuanya bangga. Meskipun kadang terpikir di benak Kania, betapa enaknya jika dia memiliki seorang bunda yang dapat menyayanginya dan merawat ayahnya.
Setelah pulang sekolah, sang ayah berjanji untuk mengajaknya bermain dan berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan. Kania sangat senang karena ia rindu untuk dapat bermain bersama keluarganya. Namun, dirinya merasakan ada yang kurang karena sang ibu yang tidak bersamanya. Tetapi kini ia bersama ayahnya ditemani oleh seorang wanita cantik dan seorang anak yang umurnya masih di bawah Kania. Karena dia tidak mengetahui siapa yang sedang bersama dengannya, Kania pun bertanya pada sang ayah.
“Ayah, itu siapa?”
“Oh, ini teman Ayah, sayang. Ayo salim sama Tante Ditha .”
“Terus itu siapa?” tanya Kania sambil menunjuk anak perempuan cantik yang berdiri di samping tante Ditha.
“Oh, kalau itu, anak Tante Ditha, namanya Silvi. Anggap saja dia adik kamu ya.”
“Oke yah!!!” katanya senang sambil menyalami Tante Ditha dan mencubit pipi bakpau Silvi.
“Yaudah yuk. Kamu mau beli apa sayang?” tanya Ayah pada Kania
“Aku mau main dulu yah. Aku belum pengen belanja.”
Akhirnya mereka berempat langsung menuju sebuah tempat permainan di pusat perbelanjaan tersebut. Tampak raut wajah bahagia Kania yang selama ini hilang. Kania merasa nyaman dengan kehadiran tante Ditha di sela kesepian ayah dan dirinya. Setelah lelah bermain bersama, mereka pun memutuskan untuk kembali menuju rumah. Kania merasa bahagia karena tante Ditha sangat perhatian dengannya dan ayahnya, dia berharap tante Ditha adalah wanita yang cocok untuk mengganti sosok bundanya yang begitu sempurna di mata Kania. Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang. Mereka sering pergi bersama dan menghabiskan waktu bersama. Ayah Kania merasa senang dapat mendekatkan tante Ditha kepada anaknya. Yah, ayah Kania senang karena memang ia berniat untuk menjadikan tante Ditha sebagai istrinya dan sebagai ibu baru bagi Kania, putri tercintanya.
Akhirnya pernikahan itu pun terjadi saat usia Kania menginjak 15 tahun. Ia merasa sangat senang karena bisa mendapatkan ibu baru baginya yang kurang lebih 10 tahun yang lalu meninggalkannya. Kini mereka berempat tinggal bersama di rumah mewah milik ayahnya.
Kebahagiaan yang selama ini Kania bayangkan ternyata tidak dia dapatkan. Sang ibu tiri yang kini menjadi istri ayahnya ternyata seorang wanita bertopeng yang membutakan Kania serta ayahnya. Hari-hari Kania memang sudah tidak sepi seperti dulu, namun kini rasanya terlalu menambah dukanya.
“Kania!! Kania!! Eh, anak malas! Sini kamu!”
“Ada apa Bu?” tanya Kania dengan nada yang lembut
“Bersihin nih meja! Debu tebel kayak gini bukannya dibersihin!”
“Udah Bu, biar saya aja sama Si Ninin yang beresin rumah ini. Kasihan Non Kania mau belajar.” kata salah seorang pembantu di rumah itu.
“Eh!! Kamu berani-beraninya ngatur-ngatur saya! Mau kamu saya pecat dari rumah ini? Saya sekarang nyonya di rumah ini jadi hanya saya yang berhak mengatur rumah ini.”
“Udah Bi, biar aku aja yang beresin. Aku udah selesai kok belajarnya.”
“Bagus! Kalo gitu. Sekarang kamu bersihin sampai gak ada debu lagi di meja ini. Ngerti!” katanya sambil tersenyum licik.
Saat Kania sedang membersihkan meja di ruang keluarga, tiba-tiba terdengar suara mobil yang masuk ke halaman rumahnya. Kania merasa senang karena ayahnya sudah pulang dan saat itu dia berharap ayahnya tau sikap istri barunya terhAdap Kania.
“Itu pasti ayah! Ayah pasti akan marah ke ibu karena aku disuruh bersih-bersih rumah.” batinnya dalam hatinya. Tetapi ia salah, sang ibu juga mengetahui kedatangan sang ayah dan langsung menggantikan pekerjaan yang sedang dilakukan oleh Kania.
“Lho, Ibu, kok ibu yang bersihin sih? Bi Minah mana?” kata ayahnya dan langsung memanggil Bi Minah. “Biiii, Bibi......” panggilnya keras
“Iya Pak, ada apa?”
“Kamu gimana sih? Kamu kan saya gaji supaya kamu itu bisa bersihin rumah saya! Kenapa jadi Ibu yang bersihin?”
“Ayah apaan sih? Bentak-bentak Bi Minah. Kasian tau. Kan bibinya juga cape.” Kata Kania kesal melihat sikap ayahnya yang kasar kepada bibi yang ia sayangi.
“Udah Yah, gapapa. Aku lagi iseng aja kok lagi gak ada kerjaan.” Katanya sopan dan tersenyum licik kepada Bibi saat ayah Kania memalingkan wajahnya ke Bi Minah.
“Yasudah kalau begitu, kasih ke Bi Minah atau Ninin saja.” Kata ayah kepada Ibu baru Kania
***
Pada malam harinya, Kania mencurahkan isi hatinya tentang ibu tirinya kepada Bi Minah.
“Bi, sini deh,” kata Kania dari lantai dua sambil menyuruh bibinya menuju kamarnya.
Mendengar panggilan Kania, bibi pun berlari menuju ke lantai dua. Ketika sudah sampai di kamar Kania, bibi pun bertanya, “Ada apa Non? Bibi lagi sibuk nih. Nanti bibi dimarahin sama ayah lagi non,” katanya sambil clingak-clinguk ke luar kamar.
“Ya Allah Bi, tenang aja. Ini bibi juga lagi kerja kok. Kan aku yang nyuruh.”
“Yaudah deh Non. Emang ada apa si Non?”
“Aku mau curhat Bi,” kata Kania dengan wajah yang murung
“Ada apa Non?”
“Aku kesel Bi! Aku kira tante Ditha baik kayak waktu pertama kali aku dikenalin sama ayah di mall waktu itu. Tapi kenyataannya dia nyebelin banget Bi! Aku kesel bangeeeettt!!!” Katanya sambil memukul bantal yang sedang ia peluk erat.
“Yah Non, bibi bisa apa? Tadi aja bibi mau bantuin non, tapi ibu gak ngizinin, malah ngancem bibi bakalan di pecat,” Jawab Bibi dengan wajah yang ikutan murung
“Apa yang harus aku lakuin ya Bi? Aku kesel banget sama sikap tuh orang. Di depan ayah baiknya setengah mati, begitu gak ada ayah, sikapnya berubah 180 derajat. Udah kayak mons...”
“Hush! Non gak boleh ngomong gitu. Walaupun kayak gitu, Nyonya Ditha kan tetep Ibu kamu,” kata Bibi memotong perkataan Kania.
“Abisnya nyebelin banget tuh orang,” kata Kania dengan wajah penuh dengan kekesalan.
“Kania, turun nak. Ayo kita makan dulu. Ibu sama adik kamu udah nungguin nih di meja makan.” tiba-tiba sang ayah memanggilnya untuk makan malam bersama.
“Iya Yah. Tunggu ,” balasnya dengan berteriak. “Aduh Bi, males nih makan bareng mereka.”
“Ssst janagan begitu. Non mau gak makan cuma gara-gara Non males ngeliat mereka?”
“Yah itu mah nyakitin diri sendiri. Yaudah yuk Bi kita turun.” Sahut Kania sambil berjalan menuju ruang makan.
Setelah mereka sampai di ruang makan, Kania langsung menuju kursi yang biasa ia tempati dan Bi Minah dan Ninin langsung melayani majikannya.
Keesokan harinya, saat Kania telah pulang dari sekolah, sang Ibu kembali memarahinya.
“Eh, kamu! Sini!” kata sang ibu dengan nada keras
“Ada apa bu?”sahut Kania lembut.
“Kamu selama ini kesel sama sikap saya? Gak suka kamu saya perlakukan kayak gini?” kata sang ibu sambil menjambak rambut Kania yang indah.
“Aduh, sakit bu! Jangan dijambak,” kata Kania sambil menangis
“Nyonya, jangan dijambak rambutnya Non Kania. Kasian Non Kania,” kata Bi Minah
“Eh, kamu pembantu aja sok-sokan! Diam kamu!” katanya sambil membentak
“Aduh, emang apa sih buktinya kalo aku gak suka sama sikap ibu?”
“Semalem, sebelum makan malam, kamu cerita kan ke pembantu itu!” kata Ibu Kania kepada Bi Minah dan Ninin yang sedang berdiri di dekat mereka.
Kania hanya bisa terdiam mendengan perkataan sang Ibu tiri.
“Jangan lagi-lagi kamu cerita kesiapa pun! Kalau kamu ketahuan cerita-cerita lagi ke orang lain, siap-siap dengan akibat yang akan kamu dapatkan!” katanya dengan senyum yang licik.
Hari demi hari Kania lalui dengan penuh kesabaran. Di keheningan malam Kania selalu berdoa agar penderitaan yang selama ini dia alami akan cepat berakhir.
***
Suatu ketika ayah dan ibu tirinya pergi bersama selama satu minggu, meninggalkan Kania dengan kesepiannya. Kania sangat rindu dengan Bundanya hingga membuat dia nekat menggeledah barang-barang kenagan bersama Bundanya yang kini usang tersimpan di gudang sejak kedatangan Bunda baru di rumahnya. Tanpa sengaja, di sebuah lemari dua pintu yang sudah reot ditemukan sebuah map yang membuat Kania penasaran untuk membuka dan ingin tahu isi map tersebut. Ada sebuah buku bersampul merah jambu, sepuluh surat bertanda dari Bunda tercinta dan dua lembar pas foto berlukis wajah ceria keluarga kecil mereka dulu. Ayah, Kania, Bunda. Perlahan Kania memperhatiakn foto tersebut dan membaca satu persatu surat yang terdapat dalam map tersebut. Ada satu surat yang membuat air matanya perlahan menetes.
Ayah, tolong kasih surat ini ke bidadari tersayang yang sekarang sudah berumur 14 tahun. Bunda berharap ayah membantu Kania untuk membalas surat ke sembilan ini. Kania sayang, maaf Bunda hanya bisa kirim surat-surat kecil ini yang selalu bunda tunggu balasannya. Bunda harap kamu selalu bahagia meskipun kini raga kita telah terpisah. Kania, Bunda yakin kamu sudah dewasa dan mengerti apa yang terjadi antara Bunda dan ayahmu. Kini meskipun Bunda telah menemukan pengganti ayahmu, tapi percayalah tidak akan pernah ada yang menggantikan engkau. Sungguh Bunda rindu menatap wajah mungilmu, mengenggam jemari lembutmu, membisikkan lagu-lagu pengiring tidur, dan memelukmu erat tubuh dinginmu. Kania, rasa kangen ini telah menjamur menjadi gumpalan sayang yang menggunung untukmu. Setiap malam hanya engkau yang ada dibenak Bunda, hanya engkau yang hadir di mimpi Bunda. Tapi apakah engkau merasakan hal yang sama? Bunda mohon kasih kabar tentang keadaan engkau sekarang. Happy birthday Kania, Bunda hanya bisa memebrikan buku merah jambu ini yang bisa kamu isi dengan seluruh pengalamanmu. Bunda harap suatu saat Bunda bisa membaca seluruh isi buku itu.
Tanpa Kania sadari air mata telah menetes membasahi surat tersebut. Kania bingung kenapa selama ini dia tidak tahu bahwa bundanya selalu mengirim surat. Satu persatu surat terus dibaca dan dia terus menggeledah isi map tersebut. Dia mengambil buku hadiah bersampul merah muda yang masih terbungkus plastik bening seperti belum pernah dibuka sebelumnya. Ketika dia membuka halaman pertama buku tersebut tertuliskan. Hubungi bunda di 08561987565.
Kania keluar dari gudang dan segera lari ke kamar mencoba menghubungi nomor tersebut dengan telpon genggam miliknya.
Tut..... Tut... Tut...
“Ayo Bund angkat teleponnya!”Kania bicara dengan penuh harap.
“Halo assalamualaikum.” Sahut seorang wanita dengan lembut.
“Bunda, aku Kania. Bunda masih ingat kan?”Kania membalas.
“Kania Dhiega anak bunda?”Bunda menjawab dengan nada terkejut.
“Iya. Bunda apa kabar? Kania kangen banget sama Bunda.” Jawab Kania.
“Baik. Kenapa kamu baru kasih kabar? Bunda khawatir banget sama kamu sayang.”
“Ayah gak pernah kasih tahu aku Bun kalau Bunda suka kirim surat.”
Akhirnya kini Kania dan Bundanya dapat berkomunikasi lagi meskipun harus sembunyi-sembunyi dari ayah dan ibu tirinya.
Tahun silih berganti, sikap sang ibu tiri tak kunjung membaik kepada Kania. Kini diusianya yang sudah menginjak 18 tahun, yang bisa ia lakukan hanyalah tetap menuruti semua perkataan sang Ibu. Walaupun sebenarnya Kania merasa tersiksa dengan sikap ibu tirinya itu. Semua pengorbanan yang ia lakukan hanyalah untuk kebahagian sang ayah yang telah merawatnya selama belasan tahun. Kania berhasil menyembunyikan hubungannya dengan sang bunda selama tiga tahun hingga suatu siang ketika Kania sedang berkomunikasi dengan bunda. Ibu tirinya mendengar pembicaraan antara Kania dan bundanya.
Jgerrrrrrr.. suara pintu kamar Kania yang di buka oleh ibu tirinya. Tania pun langsung mematiakan telpon tanpa pamit pada bundanya.
“Heh. Ngobrol sama siapa kamu?” mendekat ke arah Kania.
“Sama temanku bu.”sahut Kania ketakutan.
“Sini telpon genggam kamu!”mengambil telpon tersebut secara paksa.
“Bu jangan diambil!” Kania memohon.
“Berani-beraninya kamu berhubungan dengan mantan ibu kamu? Saya kamu anggap apa di rumah ini? Dasar anak gak tahu diri! Saya yang kasih makan kamu, sayang yang merawat kamu. Tapi wanita jalang itu kembali untuk merebut harta keluarga ini lagi? Kalau saya tidak sayang dengan ayahmu, saya sudah membuangmu!”Menarik rambut Kania dengan kasar.
“Ibu sakit.”Kania merintih.
“Hentikan hubungan kamu dengan wanita sial itu, atau saya akan melukai kamu dan ayahmu!”melepas rambut Kania dan pergi keluar serta membawa telpon genggam milik Kania.
“Tante Ditha! Tante boleh menyakiti aku, menyiksa aku, atau berusaha membunuh aku. Tapi aku gak akan terima tan kalau tante melukai sedikit saja dari kelurgaku. Emang tante pikir aku takut sama ancaman tante. Tan denger ya gak ada apapun yang bisa memisahkan hubungan antara anak dan ibu, apalagi cuma karena orang seperti tante!” Kania mulai kesal.
“Berani kamu ya! Plak.”menampar Kania dan segera pergi.
Kania hanya bisa menangis tidak bisa berbuat apa-apa atas perlakuan ibu tirinya.
Malam hari ketika ayah Kania pulang sang ibu tiri mengadukan kejadian tadi siang kepada ayahnya dengan merubah alur cerita yang bertolak belakang dengan keadaan yang sebenarnya.
“Kania, Kania, Kania.. Turun! ayah mau bicara.” Berbicara dengan nada tinggi.
“Sayang kenapa kamu tadi siang bentak-bentak ibumu hanya karena dia memergoki kamu berhubungan dengan bundamu?” bertanya kepada Kania.
“Ayah, Apakah salah jika aku membentak ibu karena dia meminta aku untuk tidak lagi berhubungan dengan bunda?” jawab Kania dengan mata berkaca-kaca.
“Apa benar Dit kamu seperti itu? ayah menatap tante Ditha dengan tajam.
“Ayah aku begitu menyayangi Kania seperti anak kandungku sendiri. Aku memang cemburu saat aku tahu kalau aku belum bisa menggantikan Fira di hati Kania. Tapi aku tidak setega itu melarang Kania berhubungan dengan Fira yah.” Balas Ditha dengan menangis.
“Kamu dengar kan kata ibumu? Lagipula untuk apa si kamu masih berkomunikasi dengan dia? Apa si yang kurang dari ayah sampai-sampai kamu mencari kasih sayang dari orang lain? Ayah tidak habis pikir.” Berjalan mendekati Kania.
“Ayah gak ngerti! Yah apakah bisa dikatakan ayah memberi aku kasih sayang tapi ayah sengaja memisahkan aku dengan Bunda hanya karena ayah ingin memiliki aku seutuhnya? Itu bukan sayang ayah, itu egois mengorbankan kebahagiaanku. Coba bayangkan kalau ayah jadi aku. Andaikan ayah tahu seberapa besar rindu aku pada bunda, tapi ayah gak pernah paham itu. Aku kecewa sama ayah. Menangis dihadapan ayah dan ibu tirinya
“Kania maafkan ayah. Ditha maafkan saya. Sekarang lupakan masalah ini ya. Kamu boleh berhubungan lagi dengan ibumu sayang.”Ayah memeluk Kania dan tante Ditha yang sedang bersandiwara, sementara anak kandung tante Ditha sedang tidur di kamar.
***
Penderitaan yang dialami Kania terus berlanjut, tiba-tiba kabar buruk datang kepadanya. Sang ayah mengalami kecelakaan saat berangkat menuju kantornya. Dan sang ayah pun meninggal dunia.Kania sangat terpukul dengan kepergian sang ayah. Yang ada dipikirannya saat ini adalah, bagaimana nasib dirinya setelah sang ayah pergi.
Setiap hari ia hanya bisa menangis setelah kepergian ayahnya. Dan sang ibu tiri semakin bebas untuk dapat memperlakukan Kania layaknya budak. Para pembantunya pun kini tidak dapat lagi membantu Kania . Mereka hanya bisa menenangkan Kania jika air matanya tak kunjung berhenti di malam hari sebelum ia tidur. Teman-teman disekolahnya pun juga hanya dapat memberinya semangat setelah kepergian sang ayah. Namun, dibalik kesedihan yang ia rasakan, ia merasa sangat bersyukur dengan hadirnya teman-teman yang bisa memberinya semangat.
Kania seakan-akan tinggal di rumah orang lain, karena seisi rumah dikuasai oleh ibu tirinya. Penyiksaan masih terus berlanjut dan lebih parah dari sebelum ayahnya meninggal. Bahkan Kania sangat terkejut ketika ia mengetahui bahwa dalang dibalik kematian ayah tercintanya adalah istri yang selama ini sangat ayah sayangi. Ibu tirinya melakukan itu hanya karena ingin menguasai harta keluarga Ferdinand. Setelah Kania tahu bahwa ibu tirinya yang merencanakan kecelakaan tersebut, Kania merasa tidak memiliki semangat untuk meneruskan hidupnya.
***
Tiga bulan setelah kepergian sang ayah, rumah milik Kania dikelilingi oleh garis polisi. Ibu tiri Kania ditemukan terbujur kaku di kamarnya dan penyebab kematiannya diduga akibat pembunuhan. Kania tidak keluar kamar selama penyisiran di lokasi kejadian berlangsung. Sementara Silvi, anak kandung Tante Ditha hanya menangis meratapi kepergian ibunya. Seluruh penghuni di rumah mewah itu, dijadikan saksi untuk penyelidikan. Polisi menduga tersangka dari pembunuhan ini adalah Bi Minah karena menurut penyelidikan, Bi Minahlah yang terakhir kali berkontak langsung dengan Nyonya Ditha. Saat sedang dilakukan penyelidikan, tiba-tiba Kania datang dan berteriak.
“Bukan di pelakunya!” tunjuk Kania ke arah Bi Minah “Aku yang ngelakuin ini semua!” teriaknya sambil menangis. Semua orang yang ada di ruang tamu rumah Kania pun kaget.
“Non, non jangan bercanda dong Non,” sahut Bi Minah
“Aku gak bercanda Bi. Aku serius. Semalem aku bunuh dia di kamarnya waktu dia lagi tidur!” mendengar kata-kata itu, penyelidik pun langsung mengikat tangan Kania dengan borgol.
“Jangan Pak! Jangan diborgol Pak!” rengek Bi Minah kepada penyelidik
“Tenang Bu, kami akan terus melakukan penyelidikan lebih lanjut. Kami akan memeriksa mba ini terlebih dahulu,” sambil membawa Kania ke kantor polisi.
***
Setibanya di kantor polisi Kania tidak berhenti menangis lantaran merasa bersalah telah membunuh ibu tirinya tersebut. Polisi pun segera mengintrogasi Kania dan meminta keterangan lebih lanjut mengenai kematian ibu tirunya.
“Kenapa Kamu membunuh ibu tirimu?” tanya Polisi tersebut.
“Dia selalu menyiksa saya Pak, dan menjadikan saya seperti seorang pembantu di rumah saya sendiri,” sahut Kania .
“Hanya itu alasan Kamu membunuh dia?” tanya Polisi dengan nada tegas.
“Bukan hanya itu, semenjak dia datang dikehidupan saya, dia seperti iblis yang telah merenggut kebahagiaan keluarga saya. Dia melarang saya untuk berhubungan dengan ibu kandung saya. Dia selalu menyakiti saya ketika ayah saya tidak di rumah. Sementara jika ayah saya berada di rumah dia seperti manusiabermuka dua dan selalu mengadu domba saya dengan ayah saya sehingga hubungan kami lambat laun semakin merenggang. Tidak hanya itu, dia juga telah membunuh ayahku. Dia yang telah merencanakan kecelakaan yang tiga bulan lalu terjadi. Dia mempunyai rencana jahat untuk mengambil seluruh harta peninggalan ayah dan dia juga akan segera membunuh seluruh penghuni di rumah saya termasuk saya Pak. Untuk itu, saya membunuh dia terlebih dahulu sebelum dia menghabisi seluruh harta dan orang-orang yang saya sanyangi Pak,” jawab Kania menjelaskan.
“Apakah Kamu tidak berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan ini? Masalah tidak dapat diselesaikan dengan pembunuhan seperti ini,” balas polisi dengan singkat.
“Entahlah Pak. Saat itu yang ada dipikiran saya hanyalah pembunuh harus dihukum dengan dibunuh,” jawabnya pasrah.
“Baiklah, cukup untuk penjelasannya,” menutup penyelidikan dan membawa Kania ke sel tahanan.

0 komentar

Posting Komentar